Kutukan dan legenda kera di Masjid Saka Tunggal, Banyumas

Senin, 1 Mei 2017 10:56 Reporter : Abdul Aziz
Kera di Masjid Saka Tunggal. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Puluhan kera yang hidup bebas di sekitar lingkungan Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas adalah bagian khas Masjid Saka Tunggal yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1288.

Kera tersebut tersebar di berbagai titik mulai dari pelataran masjid, areal pemakaman yang dirimbuni pohon-pohon tinggi sampai pemukiman warga sekitar.

Soal keberadaan kera-kera di masjid kuno tersebut, sudah menjadi legenda tersendiri dan menjadi sejarah lisan warga sekitar. Juru kunci Masjid Saka Tunggal, Sulam (47) bercerita keberadaan kera-kera terkait kutukan yang dilontarkan Mbah Mustolih, pendiri masjid, pada beberapa santrinya.

Kisah kutukan ini bermula dari kewajiban sholat Jum'at, yang mesti diikuti para santri. Nyatanya, seruan kewajiban ibadah ini dilanggar oleh beberapa santri. Mereka meninggalkan masjid dan justru menangkap ikan di sungai sampai membuat keributan.

Kecewa dengan kelakuan para santri tersebut, Mbah Mustolih marah besar. Sebagaimana para kiai yang dipercaya memiliki kelebihan karena kesalehannya, Mbah Mustolih lalu mengucapkan perkataan bahwa kelakuan para santri tersebut tak berbeda dengan perilaku kera. Tak dinyana, kata-kata itu justru jadi bencana yakni segerombolan santri tersebut berubah diri menjadi kumpulan kera.

"Ini legenda setempat yang pernah diceritakan pada saya," kata Sulam yang telah menjadi juru kunci Masjid Saka Tunggal selama 7 tahun ini.

Tapi terlepas kejadian itu benar-benar pernah terjadi atau tidak, Sulam mengatakan legenda tersebut sejatinya ingin menyampaikan pesan bahwa manusia setidaknya tidak berperilaku selayaknya hewan. Kera adalah simbol hasrat keserakahan, dimana manusia yang baik mesti bisa mengekangnya dengan menebalkan kesalehan.

Kera di makam Mbah Mustolih 2017 Merdeka.com

"Kera-kera tersebut cerminan perilaku kita yang mesti kita kekang," kata Sulam, Minggu (30/4).

Spesies kera sendiri dikatakan Sulam, saat ini di lingkungan masjid Saka Tunggal diperkiran sebanyak 200 ekor. Jumlah ini, mendekati banyaknya warga di Cikakak sebanyak 200 keluarga. Selama ini puluhan kera yang turun ke desa sudah jadi bagian sehari-hari kehidupan warga meski acapkali juga merepotkan warga.

"Sudah hal biasa bagi kami, genting atap rumah ambrol karena kera-kera berlarian," ujarnya.

Sementara, keberadaan ratusan kera di lingkungan masjid tua tersebut dianggap keunikan tersendiri dari cagar budaya Banyumas bagian barat selatan. Pemerintah Kabupaten Banyumas sejak dua tahun terakhir ini lantas menggelar festival Rwanda Bujana, yakni pembikinan gunungan buah-buahan untuk kera-kera di lokasi komplek masjid. Kegiatan itu dimaksudkan untuk menarik wisatawan sekaligus menumbuhkan tradisi saling mengasihi sesama makhluk hidup. [hrs]

Topik berita Terkait:
  1. Sejarah
  2. Banyumas
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini