Konflik yayasan, puluhan pelajar di Yogya terusir dari kelas

Senin, 17 Juli 2017 17:26 Reporter : Purnomo Edi
Pelajar Bhineka Tunggal Ika. ©2017 merdeka.com/purnomo edi

Merdeka.com - Puluhan pelajar dari sekolah di bawah Yayasan Bhinneka Tunggal Ika (BTI) di hari pertama masuk sekolah dalam kondisi memprihatinkan, Senin (17/7). Pasalnya, para pelajar yang duduk di bangkus SD dan SMP ini harus terusir dari sekolahnya karena konflik yayasan.

Sekretaris Yayasan BTI, M. Achadi mengatakan terusirnya para pelajar dan guru dari sekolah ini karena problem internal yayasan. Ada dua pemegang kekuasaan yayasan, lanjut Achadi yang tidak transparan dalam mengelola manajemen dan keuangan hingga berujung pada konflik internal.

"Kami juga menduga juga terjadi maladministrasi dalam mengelola yayasan. Salah satu ketidakberesan dalam pengelolaan yayasan ini salah satunya akibat keputusan menyewakan lapangan basket untuk umum. Namun uang sewa lapangan tidak diketahui perputarannya," terang Achadi.

Achadi pun menyampaikan bahwa pihak yayasan juga kerap melahirkan keputusan yang kontroversial. Di antaranya dengan mengganti orang di dalam yayasan secara sepihak dan tidak didahului dengan rapat dan pemberitahuan.

"Yayasan sekolah ini memang sudah tua. Sekitar tahun 2000 sempat terpuruk dan sempat bubar. Setelah sempat bubar, sejumlah orang di yayasan mencoba mendirikannya lagi. Tahun 2011 yayasan kembali bubar. Pada 2015 yayasan kembali dihidupkan," teranh Achadi.

Terpisah, Kepala Sekolah Dasar (SD) di Yayasan BTI, Retyas Budi Indarwato menuturkan bahwa saat ini akibat konflik internal yayasan, pelajar yang bersekolah mengalami penurunan jumlah. Pelajar di yayasan BTI hanya menyisakan puluhan. Di SD, hanya ada sebanyak 29 siswa, SMP ada sebanyak 13 siswa, dan SMA tinggal lima siswa. Sementara, lanjut Retyas, bangunan sekolah mereka di Jalam Kranggan Nomor 11 A Jetis, Kota Yogyakarta, diakuisisi oknum pengurus yayasan.

"Banyak siswa yang milih pindah ke sekolah lain, ya karena ada masalah yayasan alasannya. Tak hanya siswa, guru pun banyak yang memilih mundur lantaran tak kuat tekanan konflik. Dari total semula 48 guru, kini hanya tersisa 18 orang," jelas Retyas.

Retyas menjabarkan bahwa pihaknya telah melaporkan permasalahan ini ke Ombudsman dan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Dari Dinas Pendidikan, sambung Retyas mengizinkan sekolah sementara dipindah asalkan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Pendidikan
  2. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.