Kolaborasi Ulama dan Konten Kreator di Purwokerto Semarakkan Ramadan

Rabu, 21 April 2021 00:35 Reporter : Abdul Aziz
Kolaborasi Ulama dan Konten Kreator di Purwokerto Semarakkan Ramadan Ngabuburit di Linimasa. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Rombongan motor roda dua meninggalkan area Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda di Langgongsari, Cilongok, Banyumas, pada pagi buta, Kamis (18/3) silam. Suasana sepi. Motor-motor itu meluncur pelan di jalan perkampungan. Mereka, sejumlah anak-anak muda yang baru bertemu dengan Ajir Ubaidillah (31), salah satu pengurus Ponpes Nurul Huda yang akrab disapa Gus Ajir.

Di salah satu kendaraan dalam rombongan tersebut, Galih Pratiknyo (35) mengemudikan motor, sedang Yayan Dwiyanto (35) membonceng. Galih seorang videografer. Yayan pendiri Instapurwokerto, akun situs jejaring sosial berbasis kedaerahan yang memiliki ratusan ribu pengikut. Keduanya, memiliki pandangan bahwa media digital punya peran dalam gerakan sosial hari ini.

Kedatangan Yayan dan Galih ke Ponpes Nurul Huda, memiliki niat membuat konten-konten religi selama bulan Ramadan. Konten itu rencananya dikemas secara populer. Mereka berharap serba-serbi informasi tentang puasa dalam format audio visual dapat jadi sumur pengetahuan bagi anak-anak muda menjalani ibadah puasa.

"Kami sampai pada dua konsep akhirnya. Pertama, semacam kultum yang kami beri tajuk Ngabuburit di Linimasa. Kedua, podcast yang konsepnya interaktif," kata Yayan pada merdeka.com, Selasa (20/4).

Kolaborasi Lintas Sektor

Dua konten tersebut, dikatakan Yayan, melibatkan Gus Ajir sebagai narasumber utama. Gus Ajir menurut Yayan, merupakan salah satu ulama muda di Kabupaten Banyumas yang punya keberminatan mendorong kegiatan-kegiatan kreatif. Selain itu, juga terlibat sejumlah santri, yang berkolaborasi dengan konten kreator, videographer, serta editor video.

"Kegiatan ini sifatnya kolaborasi. Kami mengajak beberapa teman lain berkolaborasi dengan santri," kata Yayan.

Konten pertama dimulai dengan pembahasan malam Nisfu Syaban. Gus Ajir pada Kamis (25/3) menjelaskan tentang malam ke-15 di bulan Syaban yang tergolong malam mulia. Konten ini dikerjakan di salah satu unit usaha ponpes Nurul Huda, yakni rumah makan yang dikelola para santri.

"Saya pribadi menyambut baik ajakan teman-teman. Lewat dakwah di jejaring sosial setidaknya pesan-pesan kebaikan untuk menjalankan ibadah puasa bisa tersiar ke khalayak luas," kata Gus Ajir pada merdeka.com.

Antara ulama, pegiat konten kreatif, serta santri dalam gerakan digital tersebut tersatukan oleh satu ikatan yakni kesamaan preferensi personal. Ikatan mereka bersifat cair, fleksibel, dan terkoneksi satu sama lain oleh kepedulian bersama akan isu tertentu. Salah satu isu yang hendak dibicarakan yakni persoalan-persoalan mutakhir terkait religiusitas, wacana keislaman dan ibadah puasa.

Gus Ajir bercerita, dalam salah satu live streaming program Ngabuburit di linimasa ia membicarakan soal suntik vaksin dan puasa pada Sabtu (17/4). Sedang di podcast bertajuk Geger, secara interaktif Gus Ajir membicarakan tentang fenomena terorisme. Sejak pertengahan Maret sampai Selasa (20/4) gerakan kolaborasi ini telah memproduksi sembilan konten.

"Untuk program Ngabuburit di Linimasa tayang tiap hari menjelang buka secara live streaming di Instapurwokerto dan Enha TV," kata Gus Ajir.

Galih Pratiknyo, videografer sekaligus editor program-program tersebut memiliki kesan dapat menyumbangkan energi positif selama bulan Ramadan. Ia juga menyatakan dalam program tersebut, secara tidak langsung juga diperkenalkan objek-objek wisata potensial di Banyumas.

Pasalnya pengambilan gambar dilakukan di beberapa tempat di Banyumas yang menarik. Galih mencontohkan proses produksi dilakukan di Hutan Pinus Limpakuwus, Germanggis Area Karang Tengah Cilongok dan sejumlah tempat lain.

"Saya bersyukur bisa terlibat dan kolaborasi ini makin luas. Ngabuburit di Linimasa juga kita maknai mengajak warganet berjalan-jalan secara digital sembari mendapat mutiara hikmah dari dakwah yang disampaikan oleh Gus Ajir," tutur Galih.

Sedang Arifin Aji Santosa (35), videografer asal Purwokerto memaknai kerja kolaborasi ini sebagai keterpanggilan. Ia berpendapat lewat kolaborasi ini, ia dapat berbagi pengetahuannya dengan santri. Pasalnya, dalam praktik kolaborasi ini, secara tidak langsung juga dilakukan workshop videografi pada santri ponpes Nurul Huda.

Kolaborasi ulama dan konten kreator purwokerto tersebut, setidaknya telah jadi praktik efektivitas aktivisme digital untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan selama bulan Ramadan. Mereka secara kreatif dan inovatif memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi sebagai perangkat untuk mengajak khalayak luas untuk menjalani ibadah puasa menjadi lebih berkualitas selama bulan Ramadan. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini