Kisah seram rumah tahanan Guntur
Merdeka.com - Tekad Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan TNI terkait peminjaman rumah tahanan Guntur sudah bulat. Dalam beberapa kesempatan, ketua KPK Abraham Samad maupun Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menegaskan jika kerja sama itu pantas karena tidak bertentangan dengan undang-undang dan untuk memberantas korupsi.
Kerja sama ini diwujudkan mengingat keterbatasan ruang tahanan di KPK. Rutan TNI yang disewa KPK adalah rutan militer di bawah pengawasan Kodam Jaya. Rutan itu berlokasi di kawasan Pomdam Guntur, Manggarai, Jakarta Selatan.
Sebelum reformasi 1998, rutan tersebut digunakan sebagai rumah binaan para tahanan politik. Kemudian memasuki era reformasi, fungsi rutan diubah menjadi tahanan militer.
Selama menjadi rumah binaan para tahanan politik, rutan Guntur menyimpan banyak cerita seram. Anggota DPD RI asal DKI Jakarta, Andi Mapetahang Fatwa pernah merasakan seramnya rumah tahanan militer yang berada di Manggarai Jakarta Selatan. Waktu itu Fatwa diduga menentang pemerintahan Orde Baru dan ditahan dalam kasus Tanjung Priok.
Dalam buku of Self and injustice karangan Watson diceritakan, waktu itu, usai penangkapan, Fatwa segera digelandang ke jaksa untuk keperluan interogasi. Sorenya, Fatwa dibawa ke Rutan Guntur dengan kawalan beberapa aparat. Setibanya di rutan, Fatwa mendapatkan perlakukan istimewa oleh perwira piket.
Perlakuan tersebut tidak lama, ketika malam hari saat Fatwa diserahkan ke prajurit penjaga untuk dibawa ke sel tahanan, Fatwa mulai mendapatkan perlakuan kejam.
"Dia sudah mulai ditendang dan disodok dengan popor senapan sampai masuk sel dengan melewati ratusan anak-anak remaja yang hanya memakai kancut yang berbaring di lantai. Ternyata mereka terjaring dari remaja-remaja di Priok," tulis Watson.
Ketika Fatwa sampai ke ruang selnya, dia kemudian disiram dengan air dingin dari luar. Seluruh badannya basah kuyup, hingga fatwa menggigil di balik terali besi.
Tidak berhenti sampai di situ, ketika jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, dia digelandang menuju tanah lapang. Oleh beberapa tentara, rambut Fatwa dicukur kemudian diinjak-injak sambil dipopor dengan senapan.
Setelah digunduli, Fatwa dimasukkan ke dalam sel yang hanya muat untuk satu orang. Kondisi sel sendiri memperihatinkan, Fatwa harus rela berada dalam ruangan sempit yang penuh dengan kotoran manusia.
"Dia pun salat Isya seadanya dengan menempelkan tangan di dinding yang tentunya juga tidak bersih," lanjutnya.
Sekitar pukul 03.00 WIB, Fatwa digelandang oleh beberapa petugas keluar sel. Dengan kepala tertutup kain hitam, dan kedua tangan yang diikat tali rapia, Fatwa didorong naik ke atas mobil Jip. Sepanjang perjalanan, leher Fatwa tidak lepas dari todongan bayonet dan pistol di kepala.
Menurut Anggota Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya, Haryanto Taslam (Hatas), memang aktivitas tahanan pada era Orde Baru tidak jauh dari interogasi dengan cara-cara tidak manusiawi. Dirinya pernah menceritakan saat peristiwa penculikan 1998, dia bersama beberapa teman LSMnya pernah masuk penjara.
"Saya melihat teman-teman saya diinterogasi dengan disetrum," kata Hartas kepada merdeka.com, Kamis (27/9).
Berkomentar mengenai kerja sama KPK dan TNI, menurut Hartas pantas jika saat ini KPK dan TNI ingin memfungsikan kembali rutan Guntur sebagai tahanan untuk koruptor. Tentu saja situasi ruang tahanan Guntur dulu dan sekarang sudah berbeda. Menurut dia, kerjasama itu sebagai bentuk efisiensi dengan memaksimalkan aset negara yang tidak terpakai.
Hartas menyindir beberapa pihak yang kurang setuju dengan kerja sama tersebut. Menurutnya, kerja sama tersebut tidak perlu dimaknai berlebihan.
"Kalau ada orang DPR, seprti ketua komisi III yang keberatan, ya pakai tahanan rumahnya saja. tidak usah neko-neko cara pikirnya," kata Hartas. (mdk/tts)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya