Kisah Heroik Fendi, Penyintas Likuefaksi Palu yang Selamatkan Warga dari Terjangan Galodo di Malalak
Fendi, seorang penyintas likuefaksi Palu, menunjukkan keberanian luar biasa saat menyelamatkan banyak warga dari sapuan galodo di Malalak Timur, Agam, Sumatera Barat.
Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tiba-tiba porak-poranda dihantam banjir bandang dahsyat pada Rabu (26/11) sore. Bencana alam yang dikenal warga setempat sebagai galodo ini meluncur deras dari perbukitan, menyapu bersih perkampungan yang sebelumnya damai. Peristiwa mencekam ini mengubah lanskap hijau menjadi lautan lumpur dan puing dalam sekejap mata.
Di tengah kepanikan dan keputusasaan, seorang warga bernama Fendi muncul sebagai pahlawan tak terduga. Ia dengan sigap memperingatkan penduduk sekitar untuk menyelamatkan diri dari terjangan air bah. Keberaniannya yang luar biasa berhasil menuntun beberapa warga menuju tempat yang lebih aman.
Fendi, yang merupakan **penyintas likuefaksi** Palu pada tahun 2018, menunjukkan ketangguhan mental dan fisik yang luar biasa. Pengalaman pahitnya di masa lalu justru menjadikannya lebih peka terhadap tanda-tanda bahaya. Ia tanpa ragu mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sesama di tengah bencana galodo yang melanda tanah kelahirannya.
Detik-detik Mencekam Terjangan Galodo di Malalak
Fendi menyaksikan langsung bagaimana kampung halamannya, Jorong Toboh, dihantam galodo sekitar pukul 15.00 WIB. Sebelum banjir bandang mencapai pemukiman, ia mendengar letupan-letupan keras dari arah perbukitan, diikuti dengan pemandangan air berwarna putih bercampur kayu yang meluncur deras.
Melihat situasi yang mengancam, Fendi spontan berteriak kepada warga di sekitarnya agar segera berlari menyelamatkan diri. Ia dan beberapa warga lainnya dengan sigap bergerak ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari sapuan galodo. Dari ketinggian, ia menyaksikan perkampungan yang tadinya tenang berubah menjadi lautan lumpur.
"Saya melihat langsung dari bukit itu air berwarna putih dan kayu-kayu mulai meluncur deras. Saya berusaha meneriaki warga agar segera menyelamatkan diri," ujar Fendi, mengingat kembali momen-momen mencekam tersebut. Suara teriakan warga yang panik memenuhi udara, menyayat hati Fendi.
Keberanian Luar Biasa Fendi: Menggendong Dua Ibu-ibu di Tengah Bencana
Meskipun batinnya hancur melihat kampungnya luluh lantak, keberanian Fendi tidak surut. Dengan sisa hati nurani yang kuat, ia mulai membantu penyelamatan warga satu per satu. Bahkan, di usianya yang sudah kepala lima, Fendi berhasil menggendong dua ibu-ibu sekaligus saat arus banjir masih menerjang dengan kuat.
"Terus terang saja, saya sampai tidak percaya sore itu saya sanggup menggendong dua perempuan yang bobot badannya jauh lebih besar dari saya. Mungkin ini kuasa Tuhan," kenang Fendi. Tindakan heroik ini menunjukkan kekuatan luar biasa yang muncul dalam situasi krisis, sebuah pengalaman yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Fendi tahu betul bahwa dalam situasi darurat, hal yang mustahil terkadang bisa terjadi. Pengalaman lolos dari maut saat terjadi likuefaksi di Palu pada 28 September 2018 memberinya pelajaran berharga. Kala itu, ia berjuang antara hidup dan mati, dan kini ia kembali menghadapi bencana alam di tanah leluhurnya.
Meskipun berhasil menyelamatkan beberapa orang, Fendi merasa terpukul karena tidak bisa menolong semua warga yang meminta bantuan. Ketinggian lumpur yang mencapai tiga meter membuat niat baiknya terhalang. Ia berhasil membawa empat hingga lima orang, termasuk mertua perempuannya, ke sebuah pondok kecil sebelum berlari mencari bantuan ke Desa Tandikek.
Upaya Pencarian dan Evakuasi Korban di Tengah Tantangan Berat
Setibanya di Tandikek, Fendi segera meminta warga setempat untuk menghubungi TNI, Polisi, dan BNPB guna membantu evakuasi. Sekitar pukul 22.00 WIB, anggota Brimob Polda Sumbar tiba di lokasi bencana, meskipun hujan masih mengguyur dan kondisi gelap gulita akibat padamnya listrik.
Esok paginya, Kamis (27/11), tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Padang, Brimob Polda Sumbar, BPBD, PMI, relawan, dan masyarakat mulai menyisir area perkampungan. Mereka mencari korban banjir bandang di tengah tumpukan material berupa lumpur, kayu, batuan besar, dan reruntuhan rumah.
Proses pencarian dan evakuasi korban sangat sulit karena medan yang berat dan cuaca yang tidak mendukung. Hujan yang terus-menerus membasahi Nagari Malalak Timur membuat pencarian semakin menantang. Kekhawatiran akan banjir bandang dan tanah longsor susulan juga membayangi tim SAR.
Satu per satu korban yang meninggal dunia mulai ditemukan, memicu tangis dan duka mendalam dari keluarga yang selamat. Setiap kantong mayat dibuka untuk identifikasi, dan jenazah yang teridentifikasi segera dimandikan, dishalatkan, dan dikuburkan. Warga yang belum menemukan sanak saudaranya hanya bisa memanjatkan doa.
Misteri Penyebab Galodo dan Keajaiban Masjid di Malalak
Kepala Jorong Toboh, Hasbi, menyatakan bahwa ini adalah kali pertama kampungnya ditimpa musibah banjir bandang sedahsyat ini. Sebelumnya, galodo memang pernah terjadi, namun jauh dari lokasi pemukiman. Masyarakat masih bertanya-tanya mengenai faktor penyebab utama bencana ini, termasuk kemungkinan adanya penebangan liar di perbukitan.
Mata pencarian utama warga di nagari tersebut adalah petani kayu kulit manis (cinnamomum verum), yang memang lazim ditemukan di Kecamatan Malalak dan sekitarnya. Hal ini menjadi salah satu aspek yang turut dipertimbangkan dalam analisis penyebab bencana.
Satu hal yang membuat Hasbi dan masyarakat sekitar merenung adalah fenomena aneh saat banjir bandang menerjang. Mereka tidak menyangka bahwa arus deras galodo terpecah dua saat mendekati sebuah masjid. "Saya masih tak percaya, aliran banjir bandang terbelah dua saat mendekati masjid dan perkampungan sehingga air terbelah dua," ujarnya.
Merujuk data Dashboard Satu Data Bencana, Pemerintah Provinsi Sumbar per Sabtu (6/1/2025), dampak bencana hidrometeorologi di Ranah Minang sangat masif:
- Korban meninggal dunia: 226 jiwa
- Belum teridentifikasi: 28 jiwa
- Masih dalam pencarian: 213 jiwa
- Mengalami luka-luka: 112 jiwa
- Warga mengungsi: 22.355 jiwa
- Rumah rusak ringan: 3.332 unit
- Rumah rusak sedang: 990 unit
- Rumah rusak berat: 1.759 unit
- Rumah terendam banjir: 35.792 unit
- Rumah hilang dan hanyut: 1.028 unit
Bencana ini terjadi di 16 kabupaten dan kota, tersebar di 50 kecamatan. Pemerintah memperkirakan kerugian akibat bencana ini mencapai Rp1.707.628.681.505.
Sumber: AntaraNews