Kisah Dua Anak Bangkit Usai Jadi Korban Bom Gereja di Samarinda 2016

Senin, 19 Oktober 2020 08:19 Reporter : Merdeka
Kisah Dua Anak Bangkit Usai Jadi Korban Bom Gereja di Samarinda 2016 anak korban bom gereja di samarinda. ©2020 Merdeka.com/abelda liputan6.com

Merdeka.com - Langkah kakinya tertatih-tatih. Tak jarang sampai tersungkur jatuh. Trinity Hutahaean (7) tak mudah menyerah, itu terus semangat melangkahkan kakinya masuk pelataran Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim). Lokasi itu jadi tempat tak pernah terlupakan baginya.

Trinity adalah salah satu korban aksi biadab teror bom di gereja tersebut 2016 lalu. “Pergi ke gereja termasuk peristiwa menyenangkan buatnya,” kata ibunya, Sarina Gultom saat dihubungi, Sabtu (17/10).

Kondisi fisik Trinity berbeda dibandingkan bocah sepantaran. Keduanya kaki tidak tumbuh normal, tangan mengeras seperti kayu dan kulitnya bekas luka bakar.

Siswi sekolah dasar Samarinda Seberang ini menjadi korban bom Gereja Oikumene pada bulan November 2016 silam. Ia menderita luka bakar bersama korban Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (8) dan Anita Kristobel (6).

Aksi keji pelaku teror Juhanda, alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia pun memakan korban jiwa Intan Olivia Banjarnahor (2,5).

Trinity mengalami luka bakar lebih setengah dari tubuhnya. Lukanya menyebar setiap jengkal badan, tangan, kaki, hingga sebagian muka.

Sesaat kejadian, bocah malang ini langsung ditangani intensif rumah sakit AW Sjahranie Samarinda. Pihak medis berusaha maksimal menangani penyebaran infeksi dampak luka bakar.

"Selama tiga bulan terbaring di ruang ICU rumah sakit," papar Sarina.

Namun selama berbulan-bulan itu, kondisi Trinity tidak kunjung membaik. Kedua matanya bengkak dan luka bakar kaki kanannya mulai mengalami pembusukan.

"Saya harus membawa anak saya memperoleh pengobatan medis lebih baik," tegas Sarina.

Sehubungan itu, Sarina pun berinisiatif menerbangkan Trinity ke China agar memperoleh pengobatan lebih baik. Di sini, pihak medis negeri tirai bambu mengupayakan operasi cangkok kulit demi mengobati korban bom ini.

"Dokter memasang balon di punggung Trinity untuk menumbuhkan jaringan kulit. Jaringan kulit ini lantas dicangkok di atas permukaan luka bakar," tuturnya.

Sarina dibuat terkesima akan kecanggihan teknologi medis China. Mereka membantu jemari tangan kiri Trinity dulunya kaku jadi lebih lentur. Termasuk pula membaiknya tampilan jaringan kulit.

Selama empat tahun, keduanya pulang pergi berobat ke China. Sudah tidak terkira biaya dihabiskan selama pengobatan.

"Saya menghabiskan biaya Rp2 miliar untuk berobat ke China. Pengobatan masih butuh biaya besar hingga dia tumbuh dewasa," dia menambahkan.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) enggan menanggung biaya pengobatan Trinity. "Alasannya terbentur minimnya anggaran mereka," ungkap Sarina.

Baca Selanjutnya: Kisah Alvaro Tak Lebih Baik...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini