Kisah bule Australia pertama yang jual kain ikat NTT di Amerika
Merdeka.com - David Wyllie adalah salah seorang WN Australia yang sudah hidup di NTT selama lebih dari 40 tahun. Dia juga dinobatkan sebagai warga kehormatan di Sumba Timur.
David Wyllie tak lain adalah ayah dari aktor Hamish Daud Wyllie. Bersama dengan ayahnya, Hamish bukan lah artis lahir dari kehidupan nyaman dan mapan. Hamish mengaku kerap hidup serba kekurangan dan penuh perjuangan.
"Saya pernah hidup susah di hutan 2 tahun dan enggak sekolah, makan harus jalan kaki 4 jam untuk petik kangkung sambil mancing,ya hidup sederhana," kata aktor film Love You Love You Not kepada merdeka.com, Senin (27/7).
Kendati demikian, bagi Hamish tiada yang lebih berarti dari kehidupan seperti itu bersama ayahnya. David Wyllie sejak dulu dikenal sebagai orang asing yang terdepan membantu masyarakat NTT meski hidup Hamish dan keluarga juga sulit.
"Kita punya duit Rp 100 ribu jatuh dikasih 50 ribu ke puskesmas, hati dia besar banget, dia bukan orang asing yang cari profit dari kemiskinan. Dia utamakan warga lokal. Banyak orang sayang sama dia," kata Hamish yang sempat terbata dan hampir menangis.
Kepedulian ayah Hamish yang begitu besar, meski dia adalah orang asing, membuat hati masyarakat NTT, khususnya Sumba tersentuh.
"Dia orang pertama yg bawa ikat sumba ke luar negeri dia jualan di New York dicari Andy Warhol karena unik belum pernah lihat kerajinan ikat seperti itu. Dia berkeluarga di situ dan banyak bantu orang kalau sudah di komunitas sekompak itu dianggap keluarga," tandas pembawa acara My Trip My adventure ini.
Sedikit demi sedikit, keberadaan David Wyllie diterima oleh masyarakat dan bahkan kerajaan di NTT, seperti Sumba Timur, Ende, Waengapo, Waejelo dan lain-lain.
"Masih kita dibedakan, mungkin ada orang kepala desa polisi enggak kenal bapakku, lalu ada raja ciuman hidung jadi orang-orang langsung nunduk. Dia punya banyak info sejarah dia sudah tinggal 40 tahun dan itu hidupnya dia kenal raja-raja sebelumnya.
Keadaan keluarga Hamish membaik saat ayahnya bekerja di perusahaan semen. Dia dan keluarga pindah ke Jakarta, namun siapa sangka, ayah Hamish merasa tidak betah lalu meninggalkan semuanya demi hidup bersama dengan masyarakat Sumba.
"Hatinya di alam jadi dia milih hidup sederhana di alam tinggalin semua yang bikin dia happy yang dia bisa enjoy life dia tahu caranya hidup. Hidup itu cepet lho. Dia sangat menjaga masyarakat situ sampai dia meninggal,"ucap Hamish penuh haru.
Tak heran, saat meninggal, masyarakat Sumba begitu hangat melepas ayah Hamish. Sejumlah upacara dilakukan dan David Wyllie dilepas ke haribaan tuhan oleh ribuan orang Sumba.
"Aku beruntung aku merasa I have right to be there karna besar di sini. Bapakku meninggal banyak yang bantu mereka enggak mau dibayar, sampai aku ke pasar untuk beli makanan 3500 orang selama 5 hari. Saya ke pasar dan beli sayuran tapi mereka enggak mau terima uang. Orang situ sampai segitunya bagi mereka lebih penting temenan daripada uang," lanjut Hamish bangga.
Kini sepeninggal ayah Hamish, banyak hal yang harus dia teruskan termasuk meneruskan hubungan baik dnegan kerajaan. "Aku jualan kain ikat raja bukan buat cari untung tapi meneruskan hubungan dengan kerajaan dan dia mau cucunya sekompak itu sama kerajaan," ungkap lelaki berbadan tegap ini.
Hamish pun punya misi agar terus menjaga rasa cinta tanah air di dalam dirinya lalu disebarkan ke orang lain. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mengumpulkan uang agar bisa terus hidup berpetualang seperti ayahnya. (mdk/rep)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya