Kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 tujuan Jakarta-Pangkalpinang membawa kepedihan bagi keluarga penumpang dan kru yang ditinggalkan. Mereka berbondong-bondong menanti kabar keluarganya yang merupakan penumpang pesawat nahas itu.
Meski puluhan bagian tubuh korban Lion Air telah ditemukan, namun proses identifikasi masih terhambat oleh berbagai faktor. Keluarga korban siang dan malam pun hanya bisa berpasrah dan berharap akan adanya mukjizat, setidaknya keluarga mereka yang menjadi korban bisa ditemukan.
Sebut saja Fendy (43), dia merupakan salah satu keluarga penumpang pesawat Lion Air yang istrinya menjadi korban. Dia bercerita dirinya sudah ikhlas namun rasa sedih, marah, dan kesal masih menyelimuti perasaan ayah satu anak ini.
Dia mengungkapkan terakhir bertemu sang tercinta ketika mengantarkan ke bandara Soekarno Hatta, Tangerang di pagi hari. Tak ada firasat dan menyangka bahwa itu adalah hari terakhir Fendy melihat istrinya.
"Enggak ada firasat cuma terakhir dia bilang boarding saja, itu percakapan terakhir kami. Saya yang antar istri saya sebelum berangkat, itu kali terakhir liat istri saya," ujar Fendy di RS Bhayangkara Polri, Jakarta Timur, Jumat (2/11).
Sementara itu, anak dari Fendy dan almarhum Mawarsariati (40) yang masih berusia 8 tahun sudah mengetahui bahwa ibunya telah tiada. Meski sempat menanyakan ibunya, dan sesaat mengetahui kabar bahwa telah tiada, anak berusia 8 tahun itu terpukul. Namun Fendy mengatakan anaknya sangat kuat.
"Sempat anak cariin mamanya, tetapi dia lebih kuat ya. Hari kedua itu dia tanya mama naik pesawat JT apa, karena mamanya enggak sampai-sampai. Lalu mau enggak mau saya kasih tahu, mama sudah di surga nak," ungkapnya.
"Hari berikutnya dia mulai bisa terima kalau mamanya sudah enggak ada. Dia juga ngajak kita berdoa sama-sama untuk mamanya," lanjut Fendy.
Mawarsariati salah satu korban pesawat Lion Air JT 610 merupakan seorang karyawati hotel swasta di Bangka. Menurut suaminya, Mawar sering pulang pergi Jakarta-Pangkalpinang untuk urusan kerja.
"Sering bolak balik, tergantung panggilan kerja, dulu tinggal di Pangkalpinang kita tetapi sekarang sudah pindah ke Jakarta. Biasanya sebulan pulang sekali atau dua, tetapi dalam dua minggu ini kebetulan dia pulang balik terus," tuturnya.
Tak mengira rutinias yang sering dilakukan nya mengantar istri ke bandara akhirnya tidak bisa dilakukan lagi. Pesawat yang ditumpangi istrinya jatuh di perairan Tanjung Karawang Jawa Barat pada Senin(29/10) lalu.
Kenangan terakhir sang istri juga masih terngiang dibenak Fendy. Sosoknya yang periang dan ceria sangat dirindukan. Kini dia hanya bisa berusaha untuk tetap kuat bagi anaknya yang masih sangat kecil itu.
"Orangnya periang, dia yang selalu hibur keluarga, saudara-saudara dan tante-tantenya,” kenang dia.
"Saya pikir saya harus kuat demi anak. Sebenarnya yang lebih kehilangan dia, karena dari kecil kalau tidur mamanya yang tepukin. Kalau saya enggak kuat, anak saya bagaimana itu satu-satunya harta yang tersisa," tegasnya.