Keluarga Keraton Surakarta Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram, Disambut Hujan Lebat-Kisah Beringin Keramat Patah

Rombongan dipimpin Plt Keraton Kasunanan Surakarta, KGPA Panembahan Agung Tedjowulan.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Keluarga Keraton Surakarta Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram, Disambut Hujan Lebat-Kisah Beringin Keramat Patah
Keluarga Keraton Surakarta Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram (Istimewa)

Satu kegiatan tahunan yang dilakukan masyarakat Jawa adalah nyadran atau ziarah ke makam leluhur di bulan Ruwah (Syakban), tahun Dal 1959. Demikian juga yang dilakukan keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pada Minggu, 1 Februari 2026, ritual sakral tersebut dilakukan keluarga salah satu keraton warisan Mataram Islam ke Makam Raja-raja Mataram Kota Gede dan Imogiri, Bantul Yogyakarta. Rombongan dipimpin Plt Keraton Kasunanan Surakarta, KGPA Panembahan Agung Tedjowulan.

Juru bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, KPA Pakoenagoro mengatakan, ritual sakral ini dijalankan secara bergelombang sebagai bentuk laku spiritual, penghormatan kepada leluhur, sekaligus sarana menyatukan batin keluarga besar keraton dan para abdi dalem.

"Hari Minggu ini, giliran sentana dalem dan abdi dalem yang menyertai Panembahan Agung Tedjowulan menuju Makam Raja-Raja Mataram Islam di Kotagede. Rombongan disambut hujan saat memasuki wilayah Yogyakarta. Bagi Panembahan Agung, hujan adalah simbol berkah dan pembersihan batin. Beliau mengucap syukur dan memanjatkan doa agar seluruh Keluarga Besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat senantiasa sehat wal afiat, rukun, akur, kompak, serta mampu bekerja sama demi kebaikan bersama dan masa depan keraton,” ungkap Pakoenegoro.

Panembahan Agung Tedjowulan Tak Ikut Prosesi

Keluarga Keraton Surakarta Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram
Keluarga Keraton Surakarta Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram Istimewa

Meski memimpin rombongan dari Solo, Tedjowulan tak mengikuti prosesi. Prosesi nyadran dipimpin istri Tedjowulan, Gusti Kanjeng Ratu Mas. Rombongan memasuki kompleks makam Kota Gede dengan tertib dan khidmat.

"Di barisan paling depan, para abdi dalem juru kunci membawa bunga setaman serta aneka sesaji, melambangkan penghormatan, doa, dan pengabdian kepada para leluhur pendiri Mataram Islam," katanya.

Terkait Panembahan Agung yang tidak ikut masuk ke area makam, Pakoenegoro tidak menjelaskan dengan rinci. Keputusan Panembahan Agung untuk tidak ikut berziarah secara langsung, dikatakannya, bukanlah penghalang makna spiritual.

"Beliau menunggu di bangsal, didampingi KPA Pakoenagoro dan Kanjeng Karyonagoro. Panembahan Agung berbincang santai namun mendalam mengenai perjalanan, tantangan, dan harapan masa depan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Laku batin Panembahan Agung tetap menyertai seluruh prosesi. Nyadran bukan semata soal hadir secara fisik di makam, melainkan menyambung rasa, doa, dan tanggung jawab moral terhadap warisan leluhur,” tukasnya.

Pohon Beringin Keramat Patah

Kepada Tedjowulan, Pangarsa Abdidalem Juru Kunci Pasarean Kota Gede, KRT Pujodipuro, melaporkan terkait peristiwa patahnya pohon beringin keramat di kompleks makam setelah diterjang hujan lebat pada Kamis (29/1) lalu.

Menurut dia, pohon tersebut bukan sekadar tanaman biasa. Pohon beringin tersebut ditanam langsung oleh Kangjeng Sunan Kalijaga sebagai pertanda berdirinya kerajaan besar di Alas Mentaok, yakni Mataram Islam yang dipimpin Panembahan Senopati.

"Tanah perdikan untuk Mataram Islam itu merupakan pemberian Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Mataram IV (Panembahan Senopati)," ucapnya.

Respons Panembahan Agung Tedjowulan

Menanggapi patahnya batang pokok beringin berusia ratusan tahun itu, Tedjowulan memberikan perintah agar area tersebut segera dibersihkan dengan sebaik-baiknya.

"Bersihkan sebaik-baiknya. Dan doakan semoga peristiwa itu menjadi penanda kebaikan bagi Dinasti Mataram Islam secara umum, dan keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara khusus," ucap Tedjowulan yang langsung dijawab dengan penuh kepatuhan oleh juru kunci.

Usai merampungkan prosesi di Kota Gede, Tedjowulan dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Pajimatan Imogiri. Di makam tersebut Raja-raja Surakarta juga dikebumikan. Salah satunya adalah Paku Buwono XIII yang wafat 2 November 2025 lalu.

Rekomendasi