Kekeringan Area Gambut di Sumsel Masuk Kategori Bahaya
Merdeka.com - Kekeringan di area gambut Sumatera Selatan sudah memasuki kategori bahaya. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diharapkan dapat dicegah sedini mungkin. Berdasarkan Sistem Pemantau Air Lahan Gambut (SIPALAGA) yang dikirimkan dari alat pemantau tinggi muka air (TMA) sesuai data real secara telemetri periode 1 Juli-9 Agustus 2019, TMA di bawah gambut berada di 0,4 meter dari permukaan. Hal ini diakibatkan penurunan TMA rata-rata penurunan 0,97 cm per hari.
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengungkapkan, kondisi itu menjadi ambang batas bahaya terjadinya karhutla. Meski demikian, TMA di Sumsel jauh lebih baik dibanding Riau dan beberapa wilayah di Kalimantan yang sudah mencapai satu meter dari permukaan.
"Ini yang perlu diwaspadai karena permukaan air di lahan gambut sudah kering, mudah-mudahan tidak terjadi kebakaran," ungkap Nazir di Palembang, Kamis (15/8).
Menurut dia, cara yang dibutuhkan menjaga kebasahan lahan gambut di musim kemarau salah satunya adalah dengan sekat kanal. Hanya saja, beberapa kanal rusak akibat adanya aktivitas warga dengan kendaraan berat yang selalu melintas.
"Sekat kanal itu untuk mengelola kadar air di lahan gambut. Kepolisian harus menindaklanjuti karena ini fasilitas mencegah terjadinya kebakaran," ujarnya.
Selain itu, kata dia, diperlukan juga pemanfaatan lahan gambut sebagai tempat peningkatan perekonomian masyarakat. Misalnya di Kabupaten Banyuasin, Sumsel, yang memiliki banyak kerbau rawa. Masyarakat bisa memanfaatkan lahan gambut untuk mengembalakan kerbau sehingga dengan sendirinya mereka bisa menjaga lahan agar tidak terbakar.
Sama halnya dengan yang dilakukan warga Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Sekat kanal dibangun secara permanen dan menunjang pertanian sagu di sisi kiri dan kanannya.
"Walaupun musim kemarau, air di kanal itu setara dengan permukaan tanah padahal tidak hujan tiga bulan. Dan masyarakat diuntungkan, produktivitas sagu 50 persen lebih tinggi dibanding ketika gambut kering karena karakteristik sagu semakin basah gambut semakin produktif," kata dia. (mdk/cob)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya