Seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, dilaporkan tewas setelah menjadi korban penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Sobaham, Yahukimo, Papua Pegunungan. Insiden tragis ini terjadi pada Kamis, 2 Juli, saat Goselin baru saja mendarat di Lapangan Terbang Balinggama. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta kini tengah memfasilitasi proses pemulangan jenazah korban ke negara asalnya.
Nicholas F. Goselin merupakan salah satu dari 16 pilot yang bekerja untuk PT Associated Mission Aviation (AMA), sebuah perusahaan penerbangan misi yang telah beroperasi selama 67 tahun di wilayah Papua. Penyerangan brutal ini tidak hanya merenggut nyawa sang pilot, tetapi juga mengakibatkan pesawat Pilatus Porter yang dikemudikannya terbakar habis. Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi otoritas terkait dan komunitas internasional.
Direktur Utama PT AMA, Bob Kayadu, mengonfirmasi bahwa jenazah Nicholas telah diterbangkan ke Jakarta menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Selanjutnya, seluruh pengaturan kepulangan jenazah ke Amerika Serikat akan ditangani langsung oleh pihak Kedutaan Besar AS. Peristiwa ini menandai pertama kalinya pesawat AMA menjadi target serangan sepanjang sejarah operasional mereka di Papua.
Advertisement
Advertisement
Proses Repatriasi dan Peran Kedutaan AS
Proses pemulangan jenazah Nicholas F. Goselin kini sepenuhnya berada di bawah koordinasi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Setelah jenazah berhasil dievakuasi dari Papua dan diterbangkan ke ibu kota, pihak Kedutaan akan mengambil alih seluruh prosedur administratif dan logistik yang diperlukan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah AS dalam memberikan dukungan kepada warganya yang menjadi korban di luar negeri.
Direktur Utama PT AMA, Bob Kayadu, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyelesaikan tugas untuk menerbangkan jenazah Goselin ke Jakarta. Penyerahan jenazah kepada Kedutaan Besar AS merupakan langkah penting dalam memastikan proses repatriasi berjalan lancar dan sesuai dengan keinginan keluarga korban. Kerja sama antara PT AMA dan Kedutaan Besar AS sangat vital dalam situasi darurat seperti ini.
Penanganan kasus ini oleh Kedutaan Besar AS mencakup berbagai aspek, mulai dari koordinasi dengan pihak berwenang Indonesia hingga penyediaan bantuan konsuler bagi keluarga korban. Peran aktif Kedutaan Besar AS diharapkan dapat mempercepat proses pemulangan jenazah Nicholas F. Goselin. Ini juga menjadi bentuk perhatian terhadap keselamatan warga negara asing yang bekerja di daerah rawan konflik.
Advertisement
Advertisement
Kronologi Penyerangan dan Dampaknya pada AMA
Penyerangan tragis yang menewaskan Nicholas F. Goselin terjadi tak lama setelah pesawat Pilatus Porter yang dikemudikannya mendarat di Lapangan Terbang Balinggama, Sobaham, Yahukimo. Kelompok kriminal bersenjata (KKB) melancarkan serangan secara tiba-tiba, menembak pilot, dan kemudian membakar pesawat. Insiden ini menunjukkan tingkat ancaman yang masih tinggi di beberapa wilayah terpencil Papua.
Akibat serangan tersebut, pesawat Pilatus Porter milik AMA hangus terbakar dan tidak dapat digunakan lagi. Kejadian ini berdampak signifikan pada operasional PT AMA, yang sebelumnya memiliki delapan pesawat Pilatus Porter dan Cessna Caravan. Kini, armada AMA berkurang menjadi tujuh pesawat, dengan 15 pilot yang tersisa, termasuk beberapa warga negara asing lainnya.
Bob Kayadu menyatakan bahwa insiden pada Kamis lalu adalah yang pertama kalinya pesawat AMA menjadi target serangan dalam 67 tahun sejarah perusahaan melayani masyarakat Papua. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan penerbangan misi kemanusiaan di wilayah tersebut. Pihak berwenang diharapkan dapat meningkatkan keamanan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Advertisement
Advertisement
Netralitas AMA dan Sejarah Pelayanan di Papua
PT Associated Mission Aviation (AMA) menegaskan kembali posisi netralnya dalam konflik yang terjadi di Papua. Bob Kayadu menekankan bahwa armada AMA secara eksklusif melayani komunitas sipil lokal di daerah terpencil Papua. Perusahaan ini memiliki misi kemanusiaan murni, menghubungkan daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan transportasi darat.
Selama 67 tahun beroperasi, AMA tidak pernah mengangkut personel dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) atau kelompok bersenjata. AMA hanya menyediakan layanan publik bagi masyarakat, membantu mereka mengunjungi berbagai wilayah terisolasi yang hanya bisa diakses dengan pesawat kecil. Komitmen ini telah menjadi prinsip utama perusahaan sejak awal berdirinya.
Pelayanan AMA sangat vital bagi masyarakat di pedalaman Papua, yang sangat bergantung pada transportasi udara untuk kebutuhan dasar, medis, dan logistik. Insiden penembakan ini mengancam keberlanjutan misi kemanusiaan yang telah lama dijalankan oleh AMA. Pentingnya peran AMA dalam mendukung kehidupan masyarakat Papua Pegunungan tidak dapat dipungkiri.
Advertisement
Sumber: AntaraNews