Penyidik Polda Jateng menahan Ketua Penyelenggara dari Semarang Economy Creative, Mei Sulistyoningsih lantaran terlibat penipuan lomba tari anak-anak TK, SD, dan SMA untuk tampil di Taman Indonesia Kaya, Semarang. Namun, ketika hari pelaksanaan panitia tidak bisa menyediakan pentas bagi anak-anak.
"Tersangka Mei memang sudah dilakukan penahanan oleh Reskrim Polda Jateng. Itu sudah kemarin," kata Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto, Jumat (28/11).
Penahanan dilakukan selama 20 hari ke depan. Penyidik menjerat Mei dengan pasal penipuan dan penggelapan.
"Yang memberatkan karena ada sangkaan pasal 378 dan 372," ungkapnya.
Barang bukti yang sudah disita penyidik antara lain berupa surat izin pencantuman nama, beberapa screenshot percakapan grup panitia. Kemudian ada juga barang bukti berupa selebaran brosur dan ada satu bundel nomor rekening bank.
Advertisement
Awal Mula Kasus
Kuasa hukum korban, Zainal Abidin Petir mengatakan, kasus dugaan penipuan lomba tari ini bermula saat komunitas Semarang Economy Creative (SEC) yang diketuai DR. Mei Sulistyoningsih (MS) menggelar lomba tari di Taman Indonesia Kaya, Kota Semarang pada Jumat, 20 Desember 2024.
Para peserta yang ikut dari berbagai sanggar tari di Semarang, Kabupaten Semarang ikut menampilkan anak didiknya dari tingkat TK, SD, SMA. Sampai harinya peserta yang sudah mempersiapkan baju tari merasa kecewa lantaran panggung panitia tak kunjung ada.
"Peserta lomba yang terdiri dari anak-anak dijanjikan piala atau tropi Gubernur, uang pembinaan dan sertifikat. Namun saat hari pelaksanaan apa yang dijanjikan tidak ada. Bahkan sound system dan panggung tidak ada," kata Zaenal Petir.
Advertisement
Tak Terima Ditipu, Orang Tua Lapor Polisi
Orangtua selaku peserta yang merasa kecewa kemudian memprotes kepada ketua penyelenggara komunitas Semarang Economy Creative (SEC) yakni Mei Sulityoningsih. Tak ada tanggapan akhirnya, peserta melaporkan kasusnya ke Polda Jateng.
"Proses penyidikan, baru ada tersangkanya," ujarnya.
Saat kejadian, para peserta lomba tari kadung menyewa pakaian tari, sewa properti topeng, ornamen, atribut pedang-pedangan dan sejenisnya. Peserta juga kadung memanggil guru les tari, sewa jasa make up artis, ongkos latihan persiapan lomba. Ada 35 kelompok/tim terdiri dari sanggar dan sekolahan, mulai TK sampai SMA dengan jumlah peserta 178 orang.
"Selain rugi materi juga menimbulkan dampak psikologis anak. Mereka saling menangis histeris, malu dan stres tidak jadi tampil. Sekarang ada yang trauma kalau lewat Taman Indonesia Kaya, ada yang sama sekali tidak mau menari karena kecewa dan keluar dari sanggar tari," pungkasnya.