Kasus Kematian Belasan TKI di Selat Malaka, 2 Tersangka Segera Disidang

Kamis, 7 Februari 2019 20:27 Reporter : Abdullah Sani
Kasus Kematian Belasan TKI di Selat Malaka, 2 Tersangka Segera Disidang Ilustrasi Sidang. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Berkas perkara dua tersangka penyelundupan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berujung karamnya kapal dan kematian belasan penumpang dilimpahkan ke jaksa. Mereka berdua ditahan sejak awal ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

‎‎"Sudah diterima berkas dan tersangka Jamal dan Hamid dalam proses tahap 2. Mereka kita tahan untuk 20 hari ke depan," kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bengkalis, Iwan Roy Charles, Kamis (7/2).

Menurut Iwan, selama proses penahanan kedua tersangka yaitu Jamal dan Hamid alias Boboy, pihaknya akan menyiapkan berkas dakwaan untuk selanjutnya dilimpahkan ke pengadilan guna proses persidangan.

Dijelaskannya, pelimpahan berkas perkara, tersangka berikut barang bukti dalam kasus yang menarik perhatian masyarakat luas itu dilakukan setelah jaksa menyatakan penanganan perkara tersebut lengkap atau P21.

"Kedua tersangka dijerat pasal 359 KUHP dan Pasal 120 Ayat 1, Undang-Undang Nomor 6 tahun 2011. Ancaman hukuman kedua tersangka maksimal 15 tahun penjara," lanjutnya.

Dalam kasus ini, Hamid dan Jamal ditetapkan tersangka pada Desember 2018. Keduanya merupakan warga Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis.

Penetapan kedua tersangka tersebut sekaligus membongkar misteri temuan 11 mayat di Selat Malaka, tepatnya di perairan pesisir Bengkalis, Dumai hingga Meranti sejak 22 November hingga 4 Desember 2018.

Mayat misterius itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan, sebagian besar organ tubuhnya dalam kondisi tak lagi utuh. Awalnya, dari 11 mayat yang ditemukan tersebut, empat di antaranya berhasil diidentifikasi.

Mereka adalah Mimi Dewi, wanita berusia 32 tahun dan Ujang Chaniago (48) berasal Sumatera Barat. Selanjutnya Marian Suhadi (24) dan Paisal Ardianto (24) yang keduanya berasal dari Sumatera Utara.

Sejak awal temuan jenazah-jenazah tersebut, polisi telah mendapat informasi bahwa mereka merupakan para TKI yang sebelumnya bekerja di Malaysia. Hal itu dikemukakan oleh para pihak keluarga di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau.

Namun, polisi belum berani menyimpulkan bahwa mereka merupakan korban dari tenggelamnya kapal TKI ilegal, yang berupaya menyeberang dari Malaysia menuju Indonesia.

Setelah adanya dua tersangka ini, kemudian polisi mengonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan sejak akhir November hingga awal Desember ini merupakan korban TKI.

Pengungkapan kasus itu setelah polisi menetapkan kedua tersangka di atas sebagai daftar pencarian orang atau DPO. Penetapan DPO dilakukan setelah polisi melakukan serangkaian penyelidikan.

Kedua tersangka membawa korban yang merupakan TKI dari Malaka, Malaysia, menuju ke Pulau Rupat Bengkalis. Peristiwa itu terjadi pada 22 November 2018 dini hari. Menurut pengakuan tersangka, sedikitnya terdapat 16 penumpang kapal yang keseluruhannya TKI, dan bermaksud kembali ke Indonesia melalui Selat Malaka tujuan Pulau Rupat Bengkalis. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Malaka
  2. TKI
  3. TKI Ilegal
  4. Pekanbaru
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini