Karaton Surakarta Hadiningrat memastikan tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro tetap digelar sesuai pakem pada Selasa Wage, 16 Juni 2026 pukul 00.00 WIB atau bertepatan dengan masuknya Rabu, 17 Juni 2026. Tradisi sakral penanda Tahun Baru Jawa 1960 tersebut akan kembali menghadirkan Kebo Bule Kiai Slamet di barisan terdepan sebagai cucuk lampah atau pemimpin prosesi.
Ribuan warga dari berbagai daerah diperkirakan memadati kawasan Baluwarti untuk menyaksikan kirab yang berlangsung dalam suasana hening atau tapa bisu, sebagai simbol laku prihatin dan refleksi diri menyambut pergantian tahun Jawa.
Wakil Pengageng Karti Puro Karaton Surakarta Hadiningrat, KPH Djoyo Adilogo, mengatakan seluruh persiapan telah dimatangkan dan berjalan sesuai tata cara yang selama ini dijaga secara turun-temurun.
"Persiapannya seperti biasa. Semua berjalan sesuai prosedur yang selama ini sudah dilakukan. Kami juga sudah melaksanakan gladi bersih selama dua hari sebelum pelaksanaan kirab," ujar Djoyo Adilogo saat ditemui di kandang Kebo Bule Kiai Slamet, Alun-Alun Selatan Karaton Surakarta Hadiningrat, Minggu (14/6/2026).
Advertisement
Djoyo Adilogo yang merupakan cucu Sinuhun Paku Buwono XII Hangabehi sekaligus Bupati Juru Kunci Astana Pajimatan Imogiri mengaku telah terlibat langsung dalam penyelenggaraan Kirab Malam 1 Suro sejak 2004. Menurut dia, seluruh rangkaian kegiatan telah menjadi rutinitas yang dipahami para petugas dan abdi dalem yang bertugas.
Untuk mendukung kelancaran prosesi, Karti Puro dibantu Tim Semut Ireng dan abdi dalem dengan menerjunkan sekitar 30 personel pengamanan di sepanjang rute kirab. Mereka bertugas membuka jalan serta mengawal pergerakan Kebo Bule Kiai Slamet selama prosesi berlangsung.
"Setiap perempatan sudah ada petugas yang mengatur dan membuka jalan. Semua sudah dipersiapkan agar kirab berjalan lancar dan tertib," katanya.
Advertisement
Ia menegaskan, pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro berjalan sesuai struktur adat Karaton Surakarta Hadiningrat. Saat ini karaton dipimpin Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIV yang dinobatkan pada 13 November 2025.
Menurut Djoyo Adilogo, seluruh tradisi adat dijalankan berdasarkan dawuh Sinuhun yang diteruskan melalui Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, lalu dikoordinasikan kepada Karti Puro sebagai pelaksana teknis.
"Seluruh rangkaian Kirab Malam 1 Suro memiliki garis koordinasi dan tanggung jawab yang jelas," tegasnya.
Di sisi lain, Karaton juga memastikan kondisi Kebo Bule Kiai Slamet dan keturunannya dalam keadaan siap mengikuti prosesi. Djoyo Adilogo meluruskan informasi yang beredar dengan menegaskan bahwa pengelolaan Kebo Bule menjadi tanggung jawab Karti Puro.
"Perawatan dilakukan secara rutin setiap bulan. Semua kebutuhan Kebo Bule selama ini menjadi tanggung jawab Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat yang saat ini dijabat oleh Gusti Moeng," ujarnya.
Advertisement
Srati atau pawang Kebo Bule, Heri, menambahkan sebanyak lima ekor keturunan Kiai Slamet telah menjalani persiapan khusus menjelang kirab, termasuk perawatan harian dan pemandian agar siap mengikuti prosesi.
Lima kerbau tersebut terdiri atas dua jantan dan tiga betina. Setelah sebelumnya dirawat di kandang lama Kampung Gurawan, kini seluruhnya ditempatkan di kandang Alun-Alun Selatan Karaton.
Kirab akan dimulai tepat pukul 00.00 WIB dari kompleks Karaton Surakarta Hadiningrat. Pusaka karaton diarak mengelilingi benteng dengan diiringi abdi dalem dan Kebo Bule Kiai Slamet dalam tradisi tapa bisu tanpa percakapan.
Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan simbol introspeksi, doa keselamatan, ketenteraman, dan harapan keberkahan di tahun yang baru. Sementara Kebo Bule Kiai Slamet dimaknai sebagai lambang kesetiaan, keteguhan, serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Karaton optimistis seluruh rangkaian Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2026 dapat berlangsung aman, tertib, khidmat, sekaligus menjadi ruang pelestarian budaya adiluhung Jawa.