Kapolri Tegaskan Isu Serbuan Pekerja Asing di Morowali Hoaks

Jumat, 15 Februari 2019 21:39 Reporter : Aksara Bebey
Kapolri Tegaskan Isu Serbuan Pekerja Asing di Morowali Hoaks Kapolri Tito Karnavian. ©2017 merdeka.com/nur habibie

Merdeka.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan isu tenaga kerja asing yang menyerbu ke pelbagai daerah dipastikan tidak benar alias hoaks. Meski begitu, ia membenarkan bahwa investasi sejumlah kawasan industri mayoritas dimiliki pihak asing, seperti China.

Tito mengaku sudah melakukan pengecekan langsung ke tempat yang disebut diserbu tenaga kerja asing di antaranya di sebuah kawasan industri yang mengolah stainless steel menjadi baterai lithium di wilayah Morowali, Sulawesi Tenggara. Ternyata dari jumlah 32.000 karyawan yang bekerja di sana, 10 persen berstatus tenaga kerja asing.

"Saya dengan panglima datang ke sana bersama segenap pejabat Mabes Polri, TNI, Menaker, Ditjen Imigrasi, semua hoaks semua. Memang investasi dari China, karena mereka punya teknologi dan uang," kata Tito saat memberi sambutan peresmian masjid di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung, Jumat (15/2).

Kondisi fasilitas dan hubungan antar pegawai ia klaim kondusif. Semua hak pekerja diberikan dengan baik, seperti pemenuhan makan sebanyak tiga kali sehari. Pegawainya bukan hanya dari lokal Morowali, tapi dari seluruh Indonesia.

Para pegawai dari asing dipekerjakan untuk mengurusi mesin yang kompleks, sekaligus mengajarkan pekerja dalam negeri. Konsep itu dilakukan seperti di Freeport, Papua di mana pada tahun 1967 tenaga kerja dikuasai tenaga kerja asing, terutama asal Amerika. Seiring berjalannya waktu, teknologi di freeport dikuasai tenaga kerja lokal.

"Sekarang kalau datang cuma satu persen. Dan direkturnya semua orang Indonesia. Bahkan wakil direkturnya orang papua asli. Direkturnya orang manado, dan komisarisnya senior saya mantan pangdam," ucap Tito.

Isu lain yang ternyata hoax adalah soal tentara dari Tiongkok yang sudah masuk ke wilayah Morowali. Ia memastikan bahwa tenaga kerja asing yang ada di sana merupakan staf ahli. Adapun manajer keamanannya adalah seniornya berpangkat bintang tiga.

"Saya juga ketemu, mantan kapolda sulteng, itu bintang tiga, Komjen setingkat dengan kang Irwan. Dia adalah manjaer security di sana. Dia adalah kepala badan intelejen kepolisian, mana mungkin dia punya kemampuan untuk membaca," terangnya.

Faktor lain adalah bahwa perusahaan batu bara yang disana tidak menjualnya produknya ke luar negeri. Karena pabrik di sana pun perlu batu bara sebagai bahan baku utama. Tito menambahkan, adanya kawasan industri itu, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah tumbuh 19 persen.

"Itu pertumbuhan ekonomi dengan adanya investasi hampir Rp 100 triliun, 2 tahun lagi Rp 123 triliun, itu pertumbuhan ekonominya 38 persen. Jadi kita jangan hanya mimpi 5 persen. Saya berbicara ini ada media, enggak mungkin bohong," terangnya.

Polisi dalam hal ini bertugas untuk menjaga kondusivitas negara. Implikasinya bisa menyentuh pertumbuhan ekonomi. Kalau sebuah negara atau wilayah itu tidak damai, maka investor tidak akan berminat menanamkan modal.

Menurutnya, benyak investor yang menanamkan modalnya di Indonesia maka roda dan pertumbuhan ekonomi akan terus melaju. Sebaliknya, jika tidak ada investor, maka terjadi pemabatan pertumbuhan ekomomi. Hal itu akan berefek pada meningkatnya angka kriminalitas.

"Ketika terjadi ketidakamanan, semua pengusaha kabur. Untuk itu, stabilitas politi kemanan jadi kunci bagi kita untuk buat negara maju. Keamanan ini sama dengan kesehatan, harus dirawat," imbuhnya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini