Kapal isap bikin warga hingga bupati Belitung murka
Merdeka.com - Keberadaan kapal isap produksi (KIP) milik PT Kampit Tin Utama di Perairan Laut Pering, Belitung, membuat murka warga hingga bupati. Boro-boro memberi manfaat, kapal tersebut justru membawa bencana. Lingkungan tercemar hingga kerusakan ekosistem laut yang selama ini menjadi wisata andalan kabupaten.
Jumat kemarin, ribuan warga dan Bupati Sahani Saleh menggelar demonstrasi menolak aktivitas KIP di Pantai Sengaran, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung Timur. Di hadapan massa, Sahani mengajak warga untuk bersama berjuang mengusir KIP.
"Oleh itu apapun konsekuensi ini, nabi besar kita Muhammad telah mengajarkan juga suatu kekerasan. Pada saat beliau umrah, setan-setan mendekat mau menggoda beliau, tapi beliau dengan mengambil batu melemparnya. Itu kapal tiada kata lain, kita bakar. Tiada lain untuk cara lain mengusirnya," geram Sahani.
Bahkan, dia bersama perwakilan massa mendatangi KIP yang berada di perairan. Di atas dek kapal, bupati mengultimatum penanggung jawab KIP agar segera pergi.
"Intinya saya tidak mau panjang lebar karena masyarakat Belitung sudah menganggap musuh utama di dunia ini tidak lagi setan, tetapi kapal isap. Intinya konsekuensinya kalau tanggal 20 masih ada di sini, saya tidak mau tahu," kata Sahani.
Sejumlah pihak yang ikut mendampingi bupati bahkan mendesak agar KIP milik PT Kampit Tin Utama itu segera meninggalkan perairan hari ini juga.
Selain mendatangi kapal, bupati juga menghubungi pemilik kapal. Dalam sambungan telepon tersebut, bupati menjelaskan bahwa demo hingga rencana warga untuk membakar kapal merupakan klimaks dari kegeraman melihat aktivitas eksplorasi yang mematikan ekosistem laut.
"Sekian lama sekian bulan, pada intinya tidak akan pernah menerima kapal isap. Utamanya semua warga datang ke kapal ini sudah hampir klimaks, karena itulah tiada lagi kompromi. Masyarakat ingin kapal keluar dari laut Belitung," tegas Sahani.

Terpisah, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bangka Belitung Ratno Budi menegaskan, warga akan membakar dan menenggelamkan kapal, jika sampai tanggal 20 Oktober belum jiga beranjak pergi. Dia meminta pemerintah segera menindak, tidak hanya sekadar diam.
"Kalau tidak ada tindakan dari negara, biar masyarakat. Rencana kita bakar dan tenggelamkan (kapal isap). Kami ultimatum sampai tanggal 20 Oktober," kata Ratno.
Dia menceritakan, upaya pengusiran kapal isap sebelumnya pernah dilakukan warga. Di tahun 2012, aksi mereka membuahkan hasil. Saat itu Belitung terbebas dari tambang laut.
"Lalu kembali muncul kapal isap tahun 2016 April kemarin. Sempat beraktivitas, namun menurut kami banyak pelanggaran, seperti tata ruang tidak ada, amdal izin kedaluwarsa," beber Ratno.

Saat ini Gubernur Kepulauan Bangka Belitung sudah mengeluarkan izin operasional tiga perusahaan eksplorasi tambang timah di laut. Dua perusahaan swasta dan satu milik BUMN. Sejauh ini sudah ada satu kapal isap yang beraktivitas di sana.
Dampak negatif tambang laut tak kalah hebat dengan yang di darat. Terjadinya sedimentasi terhadap terumbu karang dan punahnya biota laut. Rusaknya wajah Belitung sebagai destinasi wisata di mata dunia akibat perusakan lingkungan. Hilangnya mata pencaharian para nelayan dengan kerugian ekonomi sangat besar dalam jangka panjang akibat rusaknya biota laut.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya