Kabar Reshuffle Kabinet, Budi Waseso Dinilai Cocok Jadi Mentan

Minggu, 19 Mei 2019 14:22 Reporter : Iqbal Fadil
Kabar Reshuffle Kabinet, Budi Waseso Dinilai Cocok Jadi Mentan Mentan dan Kepala Bulog sidak Pasar Induk Cipinang. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan mereshuffle kabinet dalam waktu dekat. Anggota DPR dan pengamat pun menakar peluang Direktur Utama Bulog Budi Waseso jika menjadi menteri pertanian. Apalagi, Buwas, biasa dia disapa telah membuat gebrakan dengan beras saset dan menolak impor beras.

Pengamat politik UPH Emrus Sihombing menilai Buwas sangat berpotensi jadi Mentan. Apalagi jika Buwas mampu membuktikan roadmap-nya menghentikan impor produk.

"Misalnya, produksi beras Bisa digenjot. sampai tri wulan keempat bisa setop. Kalau disajikan bagus, bisa saja Jokowi mempertimbangkan jabatan itu (Mentan) untuk Buwas," kata Emrus saat dihubungi, Minggu (19/5).

Emrus melanjutkan, road map jelas, disajikan ke publik biar dikaji bersama agar publik juga menilai layak atau tidak. Menurut dia, Buwas sudah menyajikan road map di bidang pertanian.

"Itu tidak salah bagaimana pandangan dia. Kalau bagus, itu hal yang perlu dipertimbangkan presiden untuk duduk di kementerian itu. Tetapi sajikan dulu strategis dan road map itu lebih bagus dari menteri sekarang. Bisa saja jabatan politis itu dia buat road map bagus. Katakanlah 2 tahun kita setop impor bawang putih, gandum setop impor karena produksi bagus," katanya.

Namun, lanjutnya, pergantian Mentan merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi. Dia menjabarkan, faktanya, Indonesia sudah mengimpor beras. Produksi beras tidak mencukupi untuk kebutuhan.

"Kalau mau perhatikan, bertani paling 3-4 bulan. Jabatan Mentan sampai 5 tahun, masa impor terus. Bawang putih, impor sempat mencapai harga 100 ribu per kilogram. Jadi tidak ada salahnya direshuffle," tuturnya.

Dihubungi terpisah, anggota Komisi IV DPR Fraksi PDIP, Ono Surono mengatakan andai Buwas menjadi Mentan merupakan hak prerogatif Jokowi. Ono mengatakan kinerja Mentan Amran Sulaiman sudah cukup baik terkait pasokan jelang lebaran seperti daging dan beras. Namun, yang menjadi kendala adalah bawang putih.

"Bawang putih memang kita cenderung melihat ada gebrakan dalam beberapa bidang selama kurun waktu hampir lima tahun. Tinggal ke depan bagaimana kita lebih fokus peningkatan produksi," tuturnya.

Ono pun menilai langkah Buwas yang menolak impor. Menurutnya, dengan bawang putih 97 persen impor, berarti produksi lokal memang tidak ada.

"Sehingga bukan hanya sekadar menolak impor tetapi bagaimana mendorong petani kita menanam bawang putih," katanya.

Dia melanjutkan, pada saat petani sudah menanam, misalnya sudah memenuhi kebutuhan nasional barulah Buwas tepat menolak impor. Sehingga pada saat kebijakan bawang putih itu ditetapkan bagaimana mendorong petani menanam, perusahaan punya tanggung jawab untuk membeli hasil panen dari petani.

Ono pun berharap mentan selanjutnya lebih meningkatkan produksi dan data pangan yang satu. Sehingga, tidak tumpang tindih data.

Sementara itu, Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan Mentan baru nanti diharapkan mampu memperbaiki data pangan. Apalagi kata dia, tidak ada kebijakan yang istimewa dilakukan oleh Mentan saat ini. Disinggung soal kemampuan Buwas jika pimpin Kementan, Uchok menjawab normatif.

"Akademisi dunia pertanian banyak yang layak. Kultur petani yang tidak bisa didekatkan aparat hukum dan sosialogis," ujarnya. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini