Jumlah Pengungsi Banjir Aceh Terus Berkurang, BNPB Pacu Pemulihan Infrastruktur

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah pengungsi banjir Aceh dan longsor berkurang signifikan, dengan sebagian besar telah kembali ke rumah. Upaya pemulihan infrastruktur juga dipercepat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jumlah Pengungsi Banjir Aceh Terus Berkurang, BNPB Pacu Pemulihan Infrastruktur
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah pengungsi banjir Aceh dan longsor berkurang signifikan, dengan sebagian besar telah kembali ke rumah. Upaya pemulihan infrastruktur juga dipercepat. (AntaraNews)

Banda Aceh, Merdeka.com – Jumlah pengungsi korban banjir dan longsor di Provinsi Aceh menunjukkan penurunan yang signifikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa angka pengungsi berkurang dari 817 ribu orang menjadi 586 ribu orang per Sabtu, 13 Desember. Penurunan ini menjadi indikator positif dalam penanganan dampak bencana di wilayah tersebut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa berkurangnya jumlah pengungsi sebagian besar disebabkan oleh kembalinya warga ke rumah masing-masing. Data terbaru ini menunjukkan progres pemulihan kondisi pasca-bencana. “Jumlah pengungsi di Aceh terus berkurang. Per Jumat (12/12) sebanyak 817 ribu dan hari ini, Sabtu (13/12) menjadi sebanyak 586 ribu,” kata Abdul Muhari.

Secara keseluruhan, jumlah pengungsi korban banjir di tiga provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, juga mengalami penurunan. Total pengungsi di ketiga provinsi tersebut berkurang dari 884 ribu menjadi 654 ribu orang. Dinamika data ini mencerminkan upaya validasi dan identifikasi yang terus dilakukan di lapangan.

Selain data pengungsi, BNPB juga merilis informasi terkini mengenai jumlah korban jiwa dan orang hilang. Per Sabtu, 13 Desember, total korban meninggal di tiga provinsi mencapai 1.006 orang. Angka ini terdiri dari 414 orang di Aceh, 349 orang di Provinsi Sumatera Utara, dan 242 jiwa di Provinsi Sumatera Barat.

Data orang hilang juga menunjukkan perubahan. Semula tercatat 226 nama, kini berkurang menjadi 217 nama. Abdul Muhari menekankan bahwa dinamika data kebencanaan, baik yang berkurang maupun bertambah, merupakan hasil dari proses validasi dan identifikasi yang cermat di lapangan. Proses ini penting untuk memastikan akurasi informasi yang disajikan kepada publik.

BNPB secara konsisten melakukan pembaruan data untuk menggambarkan situasi sebenarnya di lokasi bencana. Validasi data ini melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait dan tim di lapangan. Hal ini bertujuan agar setiap keputusan dan langkah penanganan bencana dapat didasarkan pada informasi yang paling akurat dan terkini.

Dalam fase tanggap darurat kedua, BNPB bersama pihak terkait lainnya terus mengoptimalkan distribusi logistik kepada korban bencana. Penyaluran bantuan dilakukan melalui berbagai moda transportasi untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak. Upaya ini memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dan warga terdampak dapat terpenuhi dengan baik.

Distribusi logistik pada hari laporan mencakup 16 pengiriman via udara dengan total berat 11,3 ton, dua pengiriman melalui darat seberat tiga ton, serta menggunakan kapal dengan lima pengiriman sebanyak 47,4 ton. “Distribusi logistik pada hari ini ada 16 pengiriman via udara dengan berat 11,3 ton, dua pengiriman melalui darat seberat tiga ton, serta menggunakan kapal dengan lima pengiriman sebanyak 47,4 ton,” jelas Abdul Muhari.

Selain logistik, pemulihan infrastruktur, khususnya jembatan yang putus akibat banjir, juga menjadi prioritas utama. Abdul Muhari menyatakan bahwa perbaikan jembatan terus dipacu dan diharapkan selesai secepatnya. Pemulihan jembatan ini krusial untuk mempercepat penyaluran bantuan melalui jalur darat yang sebelumnya terhambat.

“Pemulihan beberapa jembatan putus, terutama di lintas timur Aceh tersebut terus dipacu. Jika semua jembatan selesai, maka penyaluran bantuan ke wilayah bencana bisa lebih optimal,” pungkas Abdul Muhari. Percepatan pemulihan infrastruktur ini diharapkan dapat memulihkan mobilitas dan aksesibilitas di daerah terdampak bencana secara menyeluruh.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi