Jual Benih Padi Tanpa Izin, Kepala Desa di Aceh Utara Ditahan Polisi

Kamis, 25 Juli 2019 21:02 Reporter : Afif
Jual Benih Padi Tanpa Izin, Kepala Desa di Aceh Utara Ditahan Polisi Ilustrasi

Merdeka.com - Polda Aceh menahan Kepala Desa Meunasah Rayeuk Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Tgk Munirwan setelah ditetapkan menjadi tersangka kasus jual beli benih padi IF8 tanpa izin. Benih padi itu sekarang belum dilepas varietasnya dan tidak ada label.

Kasubdit Reskrimsus Polda Aceh Kompol M Isharyadi mengatakan, saat ini pihaknya belum bisa memberikan keterangan menyangkut kasus ini. Karena masih dalam proses pemeriksaan dan pengembangan.

"Mohon maaf, kami belum bisa memberikan keterangan terkait ini," kata Isharyadi kepada wartawan, Kamis (25/7).

Katanya, setelah proses pemeriksaan dilakukan. Nantinya pimpinan akan menyampaikan hasilnya ke publik. "Nanti akan disampaikan lagi," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nur Zahri menjelaskan awal mula adanya bobot padi lF8 yang belum ada izin dari Kementerian Pertanian tersebut masuk ke Nisam Aceh Utara.

Pada tahun 2017 lalu, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf membagikan bibit lF8 kepada masyarakat petani di Nisam Aceh Utara. Masyarakat dibina untuk melakukan pengembangan bibit itu.

"Setelah dikembangkan menjadilah sebuah inovasi. Sehingga hasil inovasi tersebut mendapat penghargaan dari Menteri Desa Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Eko Putro," kata Nur Zahri.

Menurutnya, bila permasalahannya bibit tersebut belum mendapatkan izin, pemerintah seharusnya mengambil peran pendampingan bukan sebaliknya.

Menurutnya, dalam beberapa kali uji coba produktivitas IF8 mencapai 11 ton per hektare. Saat ini benih padi IF8 tersebar di kalangan petani di Kabupaten Aceh Utara sejak setahun terakhir.

"Penggunaan benih IF8 semakin masif setelah masuk dalam salah satu bursa inovasi desa di Aceh Utara," ungkapnya.

Awalnya benih itu disalurkan oleh sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat untuk petani di Desa Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, pada akhir 2017. Benih itu hasil pemulia oleh Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI). Namun kemudian dikembangkan oleh kelompok tani di desa tersebut.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Meunasah Rayeuk menetapkan benih IF8 itu sebagai salah satu produk unggulan, dan menjual seharga Rp125.000 per 5 kilogram. Banyak desa-desa di Aceh Utara membeli benih IF8 dari BUMDes Meunasah Rayeuk.

Kepala Desa Meunasah Rayeuk Munirwan membenarkan benih IF8 dijual oleh BUMDes desanya kepada desa-desa lain. Namun dia tidak tahu jika itu melanggar aturan. Kata Munirwan, saat acara bursa inovasi desa tingkat kabupaten, Bupati Aceh Utara menyarankan petani di sana untuk menggunakan benih IF8.

"Hasil uji coba yang kami lakukan benih IF8 mampu menghasilkan 11 ton per hektare. Hasilnya sangat bagus," ujar Munirwan.

Para petani di Desa Meunasah Rayeuk, ujar Munirwan, semuanya telah menanam benih padi IF8 dengan total luas lahan 40 hektare. Produktivitas IF8 memang jauh di atas benih unggul lain seperti M400 dan IPB-3S dengan produktivitas 7 ton per hektare. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Pertanian
  2. Banda Aceh
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini