Jam Istiwa' di Masjid Agung Solo, meski uzur tapi akurat
Merdeka.com - Pada masa lalu, arloji atau jam tangan masih menjadi aksesoris mewah dan hanya dipunyai oleh orang tertentu. Semasa kejayaan Keraton Kasunanan Surakarta misalnya, saat itu umat muslim harus melihat bayangan matahari jika ingin mengetahui atau menentukan waktu salat.
Salah satu cara dipakai adalah melalui peralatan khusus bernama jam istiwa' atau jam matahari. Peralatan itu hingga saat ini masih bisa ditemui di halaman Masjid Agung Keraton Surakarta.
Tak banyak orang mengetahui keberadaan jam ini, meski letaknya di tempat terbuka. Jam ini juga merupakan jam matahari satu-satunya di Jawa Tengah. Letaknya berada di bagian kiri halaman masjid atau di depan kantor masjid. Meski sudah berusia seratus tahun lebih, kondisinya masih kokoh, bersih, dan terawat. Jam istiwa' itu diletakkan di atas tembok kokoh dan ditutup dengan kaca bening terbuka. Masyarakat yang sedang melintas bisa dengan leluasa melihat jam kuno itu.
Jam istiwa' itu terbuat dari pelat tembaga ditekuk sampai berbentuk setengah lingkaran. Di permukaannya terdapat guratan garis-garis dan angka-angka penunjuk waktu. Sedangkan sebuah besi berbentuk paku dengan posisi horisontal mengarah ke utara dan selatan terpasang di atas cekungan.

Salah satu takmir masjid, Abdul Basyir mengatakan, jam matahari itu masih bisa berfungsi optimal jika hari kondisi cuaca cerah. "Kondisinya masih normal, dari bayangan yang ditimbulkan kita bisa melihat waktu salat. Untuk salat zuhur misalnya, matahari tepat berada di tengah jarum dan akan ada bayangan tepat di angka 12," kata Basyir, saat ditemui wartawan, Minggu (21/6).
Menurut Basyir, tingkat ketepatan jam istiwa' sebagai penentu waktu salat boleh diadu, karena langsung berdasarkan pada bayangan sinar matahari. Hanya saja, dia mengakui instrumen itu punya kelemahan.
"Jam istiwa' ini hanya bisa digunakan untuk menentukan waktu salat zuhur dan ashar, karena mengandalkan sinar matahari. Kalau cuacanya mendung, praktis jam istiwa' tidak bisa bekerja efektif," ucap Basyir.
Sedangkan cara kerjanya, menurut Basyir, sangat sederhana. Jam itu dilapisi lempengan kuningan. Untuk menciptakan bayangan jatuh di permukaan kuningan, dipasang paku atau jarum besi sepanjang 10 centimeter tepat di tengah-tengah batang besi sepanjang 18 centimeter menghubungkan kedua sisi permukaan kuningan.
"Pada permukaan kuningan ada 12 angka. Angka 1 sampai 6 di sisi cekungan timur, sedangkan angka 7 sampai 12 berderet di cekungan barat. Saat sinar matahari jatuh pada permukaan jam, maka bayangan jarum akan menunjuk salah satu angka yang ada pada lempengan kuningan," urai Basyir.
Masjid Agung Surakarta adalah salah satu masjid peninggalan Raja Paku Buwono XI. Dibangun pada 1733. Masjid kebanggaan Solo ini mempunyai luas 19.180 meter persegi dan dikelilingi pagar setinggi 3,25 meter. Di sebelah timur laut terdapat menara dibangun pada 1937. Tempat itu dulunya digunakan buat mengumandangkan adzan. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya