Jaksa Tanggapi Isi Pleidoi Rizieq: Tidak Sehat dan Mengedepankan Emosional

Senin, 14 Juni 2021 12:14 Reporter : Bachtiarudin Alam
Jaksa Tanggapi Isi Pleidoi Rizieq: Tidak Sehat dan Mengedepankan Emosional ilustrasi pengadilan. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur kembali menggelar sidang lanjutan kasus tes swab di RS Ummi Bogor atas terdakwa Rizieq Syihab bersama menantunya, Hanif Alatas, dan Dirut RS Ummi Andi Tatat.

Jaksa menanggapi pleidoi yang sebelumnya telah dibacakan Rizieq. Jaksa menyoroti kata-kata kasar dan tidak sesuai norma dalam berkas pleidoi Rizieq dan dipandang tidak bijak dilontarkan di muka persidangan.

"Tidak perlu mengajukan pembelaan dengan perkataan yang melanggar norma bangsa dengan kata-kata yang tidak sehat yang mengedepankan emosional apalagi menghujat," kata jaksa saat sidang, pada Senin (14/6).

Sejumlah perkataan yang menjadi sorotan di antaranya menuding jaksa berotak penghasut, tak ada rasa malu, culas (curang), hingga licik.

"Tak ada rasa malu, menjijikkan, culas dan licik sebagaimana 40, 42, 43 46, 108, 112. Sudah biasa berbohong manuver jahat ngotot, keras kepala, iblis mana yang merasuki, sangat jahat dan meresahkan, sebagaimana pleidoi," sebut jaksa.

Tidak cuman itu, jaksa juga menyoroti perkataan Rizieq yang menyebut penuntut umum hanya dijadikan alat oligarki. Tidak sepantasnya hal itu dilontarkan dalam muka persidangan.

"Tanpa filter, kalimat-kalimat seperti ini lah dilontarkan terdakwa dan tidak seharusnya diucapkan yang mengaku dirinya berakhlak kulkarimah tetapi dengan mudahnya terdakwa menggunakan kata-kata kasar sebagaimana di atas," ujar jaksa.

Oleh sebab itu, jaksa dalam repliknya menyayangkan Rizieq yang didengung-dengungkan sebagai guru, tokoh masyarakat, hingga orang yang berilmu hanyalah kabar yang tidak benar.

"Ternyata yang didengung-dengungkan sebagaimana imam besar hanya isapan jempol belaka," bebernya.

Sebelumnya dalam pleidoi, terdakwa Rizieq Syiha. menyebut bahwa kasus pelanggaran protokol kesehatan (Prokes) yang menjeratnya sarat politis. Masalah hukum yang menjeratnya, disebut Rizieq bagian dari Operasi Intelijen Hitam Berskala Besar.

"Semua kasus pelanggaran prokes yang saya hadapi, mulai dari kasus Petamburan, Megamendung hingga RS UMMI lebih kental warna politisnya. Ini semua bagian dari Operasi Intelijen Hitam Berskala Besar," kata Rizieq dalam pleidoi, Kamis (10/6).

Dengan tujuan, katanya, membunuh karakter sekaligus mentarget untuk menjebloskannya ke bui.

"Yang bertujuan untuk membunuh karakter saya, sekaligus mentarget untuk memenjarakan saya selama mungkin demi kepentingan oligarki anti Tuhan yang telah menguasai hampir semua sendi kekuasaan di negeri ini," katanya. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini