Jadi Tersangka Korupsi Gaji dan THR Veteran, Pegawai Pos di Tabanan Tilap Rp 796 Juta

Senin, 14 Oktober 2019 22:59 Reporter : Moh. Kadafi
Jadi Tersangka Korupsi Gaji dan THR Veteran, Pegawai Pos di Tabanan Tilap Rp 796 Juta Ilustrasi borgol. shutterstock

Merdeka.com - Pihak kepolisian Polres Tabanan, kembali melakukan penyidikan I Putu Tika Ariutama yang diduga menilap uang para veteran, Senin (14/10) di Mapolres Tabanan, Bali. I Putu Tika Ariutama, diketahui seorang pegawai Kantor Pos Cabang Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Ia diduga menilap uang gaji atau korupsi tunjangan hari raya (THR) 175 veteran. Dari 175 veteran ini ada yang sudah meninggal dan diduga sebanyak Rp 796.675.667 hak para pejuang negara ini hilang dan saat ini Ariutama menjalani pemeriksan sebagai tersangka di Mapolres Tabanan, Bali.

Kasubag Humas Polresta Tabanan Iptu Made Budiarta mengatakan, Ariutama sebenarnya ditetapkan sebagai tersangka pada tanggal 4 Oktober 2019 yang lalu.

"Saat ini, (dia) diperiksa lagi sebagai tersangka, waktu itu hanya ditetapkan dulu kan kita berdasarkan hasil lidik dulu," kata Budiarta saat hubungi, Senin (14/10).

"Kemudian berdasarkan hasil lidik dilakukan gelar perkara dan di dalam gelar perkara dilihat dulu perbuatan kayak apa. Kemudian alat buktinya kayak apa. Karena kalau (nanti) kerugian uang negara, otomatis korupsi dia," imbuh Budiarta.

Budiarta juga menjelaskan, bahwa tersangka diperiksa sekira pukul 10.00 WITA, tadi, bertempat di Ruang Unit Sidik Tindak Pidana Korupsi Satuan Reskrim Polres Tabanan, Bali.

"Penyidik melakukan pemeriksaan terhadap tersangka I Putu Tika Ariutama," jelas Budiarta.

Ia juga menjelaskan, bahwa tersangka Ariutama ini dipercaya para veteran untuk mengantarkan gajinya ke rumah mereka. Namun, berjalannya waktu gaji tersebut tidak sampai ke rumah Veteran. Namun, uang itu diduga masuk ke kantong pribadi Ariutama terhitung sejak Mei 2014 sampai April 2019 dan gaji ke-13 dan THR dari September 2018 sampai Januari 2019.

"Tersangka juga telah (diduga) mengambil gaji para veteran yang sudah meninggal dunia namun tidak dilaporkan ke Kantor Pos, dengan hasil perhitungan audit kerugian negara yang telah dilakukan oleh BPKP Provinsi Bali terhadap tersangka yaitu Rp 796.675.667," jelas Budiarta.

Budiarta juga menjelaskan, untuk sementara tersangka belum ditahan karena masih dalam proses pemeriksaan. Karena, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan meminta keterangan para saksi dan mengumpulkan semua barang bukti.

"Sementara tidak ditahan, nantinya (menunggu) audit BPKP (yang) merupakan bukti surat nanti. Juga keterangan saksi merupakan alat bukti juga. Kemudian di samping juga ada alat bukti lainnya," ujarnya.

Jika Ariutama terbukti korupsi, bisa dijerat dengan pasal 2 ayat (1) pasal 3, pasal 8 dan pasal 9 UU no 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah menjadi UU No 20 Tahun 2001 tentang pembrantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 dan Jo Pasal 64 KUHP dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun kurungan. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Korupsi
  2. Tabanan
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini