Jadi Pengacara Habil Marati, Yusril Akan Pelajari Kasus Rencana Pembunuhan 4 Tokoh

Rabu, 10 Juli 2019 18:31 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Jadi Pengacara Habil Marati, Yusril Akan Pelajari Kasus Rencana Pembunuhan 4 Tokoh Yusril di Polda Metro Jaya. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) bersedia menjadi pengacara tersangka dugaan rencana pembunuhan empat tokoh negara, Habil Marati. Yusril sudah tiba di Polda Metro Jaya untuk menemui Habil.

"Kasus ini mungkin akan saya terima permintaan beliau untuk menjadi penasehat hukumnya dan juga berkoordinasi dengan Polda dan mabes Polri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Yusril, Rabu (10/7).

"Pak Habil beliau menghubungi saya melalui seorang kawan dan ingin saya menjadi penasehat hukum beliau," sambungnya.

Yusril akan mempelajari kasus Habil secara cepat. Dia akan mendalami benar atau tidaknya politikus PPP tersebut menjadi penyandang dana pembelian senjata api untuk membunuh.

"Ataukah ada versi lain dari Habil, saya ingin dengar dulu dari beliau mungkin dari diskusi ini kita akan sikapi bersama mungkin juga menjadi kuasa hukum saya oke saja dalam arti bahwa ingin menjernihkan persoalan yang dihadapi Pak Habil itu dan mencari jalan keluar yang baik dari semua pihak supaya hukum betul-betul berjalan secara adil dan proporsional," lanjutnya.

Ketua tim kuasa hukum Jokowi-Ma'ruf ini juga akan bertanya kepada penyidik Polda Metro Jaya guna mengetahui secara pasti apa hasil penyidikan sehingga menetapkan Habil sebagai tersangka.

"Tapi kan sebagai tersangka itu tergantung dari perkembangan apakah bukti-bukti yang cukup atau tidak," ucap Yusril.

Untuk diketahui, Habil Marati disebut sebagai penyandang dana eksekutor empat pejabat negara yang menjadi target pembunuhan. Wadireskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam, mengungkapkan Habil memberi uang kepada mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebesar SGD15 ribu atau setara Rp150 juta.

Kivlan disebut memberikan uang itu kepada anak buahnya, Iwan Kurniawan alias Helmi Kurniawan untuk membeli senjata laras panjang dan pendek. Senjata itu disebut untuk membunuh mati Menkopolhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala BIN Budi Gunawan dan Goris Mere. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini