Jadi Kudapan Wajib Saat Berbuka, Tak Banyak yang Tahu Ternyata Begini Sejarah Makanan Kolak

Kolak sejenis makanan bersantan dicampur gula aren cair yang isinya berupa potongan pisang, ubi dan kadang kala ditambah kolang kaling.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Jadi Kudapan Wajib Saat Berbuka, Tak Banyak yang Tahu Ternyata Begini Sejarah Makanan Kolak
Jadi Kudapan Wajib Saat Berbuka, Tak Banyak yang Tahu Ternyata Begini Sejarah Makanan Kolak (Merdeka.com)

Setelah seharian berpuasa, kerap kali menyantap makanan manis bak sebuah keharusan. Biasanya, makanan manis yang wajib selalu ada saat berbuka puasa adalah kolak.

Tradisi di banyak daerah di Indonesia, biasanya olahan makana kolak dicampur pisang atau ubi. Tetapi belakangan, ada juga yang mencampurkannya dengan potongan nangka atau kolangkaling.

Meski kolak menjadi makanan yang bisa dinikmati semua orang dan usia, ternyata belum banyak yang mengetahui sejarah kolak. Ternyata, kolak sudah ada sejak zaman kerajaan.

Seperti apa sejarah makanan kolak?

Ternyata makanan kolak memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Jejak tertua makanan sejenis kolak ditemukan pada Prasasti Watukura sekitar tahun 902 Masehi di masa Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Prasasti tersebut mencatat keberadaan cairan gula aren yang kemungkinan merupakan bentuk awal dari kolak.

Namun, kolak seperti yang kita kenal sekarang ini mengalami perkembangan pesat seiring dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara, khususnya pada masa Kerajaan Demak dan Mataram Islam.

Perkembangan kolak selama masa penyebaran Islam di Nusantara tidak hanya sekedar evolusi kuliner, tetapi juga sarat dengan makna simbolik. Kolak menjadi media dakwah yang unik, di mana setiap bahan yang digunakan memiliki arti filosofis yang mendalam. Ada beberapa interpretasi mengenai asal-usul nama 'kolak' itu sendiri. Sebagian mengaitkannya dengan kata Arab 'khaliq' yang berarti pencipta, sebagai pengingat akan Sang Pencipta. Interpretasi lain menghubungkannya dengan frasa 'kul laka' yang berarti 'makanlah', sebagai ajakan untuk menikmati hidangan tersebut.

Bahan-bahan yang digunakan dalam kolak pun memiliki makna tersendiri. Pisang kepok, misalnya, dikaitkan dengan kata 'kapok' yang berarti jera, mengajak pada introspeksi diri. Ubi, melambangkan kesalahan masa lalu yang harus dikubur. Sementara santan, sebagai simbol syukur atas karunia Tuhan. Simbolisme inilah yang menjadikan kolak bukan sekadar hidangan, melainkan juga bagian dari tradisi dan nilai-nilai spiritual.

Pada awalnya, kolak memiliki bentuk yang sederhana, terbuat dari pisang dan santan. Namun, seiring berjalannya waktu, variasi dan bahan-bahannya semakin berkembang. Ubi, labu, kolang-kaling, singkong, dan bahkan durian kini menjadi bagian tak terpisahkan dari sajian kolak. Perkembangan ini menunjukkan adaptasi dan kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan-bahan lokal menjadi hidangan yang kaya rasa dan tekstur. Setiap daerah di Indonesia pun memiliki variasi kolaknya sendiri, menunjukkan kekayaan budaya kuliner Nusantara.

Berbagai macam variasi kolak ini mencerminkan keragaman budaya dan iklim di Indonesia. Di daerah yang banyak menghasilkan ubi, misalnya, kolak ubi akan menjadi sajian yang umum. Sementara di daerah penghasil durian, kolak durian akan menjadi pilihan favorit. Hal ini menunjukkan bagaimana kolak mampu beradaptasi dan menjadi bagian integral dari budaya kuliner lokal di berbagai wilayah Indonesia.

Meskipun kini telah banyak makanan dan minuman modern yang muncul sebagai pilihan berbuka puasa, kolak tetap mempertahankan posisinya sebagai hidangan ikonik Ramadan. Kolak bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan, kegembiraan, dan tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, kolak tetap menjadi hidangan yang digemari dan dinantikan setiap Ramadan. Kolak menjadi pengingat akan tradisi dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia. Proses pembuatan kolak yang seringkali dilakukan secara bersama-sama, juga memperkuat ikatan sosial dan mempererat silaturahmi antar anggota keluarga maupun masyarakat.

Lebih dari sekadar hidangan penutup, kolak juga menjadi simbol persatuan dan keberagaman budaya Indonesia. Beragamnya variasi kolak dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan kekayaan kuliner dan budaya Nusantara. Kolak menjadi bukti nyata bagaimana tradisi kuliner dapat menyatukan masyarakat Indonesia dalam keberagamannya.

Dalam konteks kekinian, kolak juga telah mengalami inovasi dan adaptasi. Terdapat berbagai kreasi kolak modern yang menggabungkan bahan-bahan tradisional dengan sentuhan modern. Namun, inti dari kolak tetap sama, yaitu sebagai hidangan manis yang lezat dan sarat makna.

Kesimpulannya, kolak merupakan hidangan yang kaya akan sejarah, simbolisme, dan nilai budaya. Perjalanan panjang kolak dari masa Kerajaan Hindu-Buddha hingga menjadi ikon Ramadan di Indonesia menunjukkan betapa hidangan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner dan budaya bangsa.

Rekomendasi