Istri Stroke Dimakamkan Khusus Pasien Covid-19, Warga Gowa Gugat Gugus Tugas

Rabu, 3 Juni 2020 09:33 Reporter : Salviah Ika Padmasari
Istri Stroke Dimakamkan Khusus Pasien Covid-19, Warga Gowa Gugat Gugus Tugas Andi Baso Ryadi Mappasulle dan putrinya akan gugat tim gugus. ©2020 Merdeka.com/Salviah Ika Padmasari

Merdeka.com - Pasien meninggal dunia akibat stroke di Gowa Nurhayani Abram (48) dinyatakan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Jenazah ibu empat putri ini dimakamkan di pemakaman Macanda, Kabupaten Gowa khusus untuk pasien Covid-19 pada 15 Mei 2020.

Sepekan kemudian, 22 Mei, hasil tes swabnya negatif dikeluarkan pihak RS Bhayangkara. RS tersebut sempat menangani Nurhayani beberapa jam sebelum meninggal dunia.

Suami almarhumah, Andi Baso Ryadi Mappasulle (46) tidak terima dan bermaksud menggugat tim gugus. Dia yakin istrinya meninggal karena stroke, bukan terinfeksi virus corona.

Pihak keluarga berupaya agar Nurhayani bisa dibawa pulang tidak dimakamkan di pekuburan Macanda. Apalagi hasil tes swab ternyata negatif Covid-19.

Upaya mereka sia-sia. Petugas ber-APD tetap membawa warga Perumahan Bumi Pallangga Mas ke pusara di Macanda. Bahkan, kata Baso, dia berusaha menyusul jenazah istrinya bersama anak-anak memakai motor. Setibanya di lokasi, Baso mengaku tidak boleh mendekat.

"Petugas tim gugus itu pergi begitu saja usai menguburkan jenazah. Logikanya, jika istri saya PDP, paling tidak saya dan anak-anak itu ODP dan diisolasi. Tapi itu tidak dilakukan tim gugus hingga keluar hasil tes swab dinyatakan negatif. Artinya, kini saya berhak mengambil dan memindahkan jenazah istri saya," kata Baso didampingi putri sulungnya, Andi Arni Esa Putri Abram, (24) saat berikan keterangan ke awak media, Selasa, (2/6).

Baso berencana menggugat tim gugus tugas karena tindakannya tersebut. Dia mengatakan telah menerima bantuan dari sejumlah pengacara untuk mengawal laporan tersebut.

"Sudah ada teman-teman pengacara yang bersedia memberikan bantuan hukum secara gratis. Saya akan gugat tim gugus meminta jenazah istri saya dan memindahkannya ke pekuburan keluarga di kampung serta memulihkan nama baik saya dan keluarga. Karena status PDP ini, kami dikucilkan keluarga, bisnis pun tidak ada yang jalan. Saya sangat dirugikan," tegas Baso.

Baca Selanjutnya: Kepala Rumah Sakit RS Bhayangkara...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini