Info dari siswa, Kepsek SMA 87 sebut guru NK kerap berpolitik di kelas

Kamis, 11 Oktober 2018 17:38 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
SMA 87 Jakarta. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - SMAN 87 Jakarta telah menonaktifkan sementara guru perempuan berinisial NK pada sistem belajar mengajar di sekolah. NK diberhentikan sementara karena diduga mendoktrin siswa lewat video korban bencana Palu dan Donggala akibat kesalahan Presiden Joko Widodo.

Kepala Sekolah SMAN 87 Jakarta Patra Patiah bercerita tentang cara NK mengajar. Dia mengatakan, NK suka berpolitik di kelas saat mengajar para siswa. Sebagian siswa di kelasnya mencermati hal tersebut.

"Setelah saya ambil sampel, cari tahu, enggak semua juga murid 100 persen Bu NK suka (berpolitik di kelas) tetapi ada (siswa), kan tetep harus kita tindak lanjuti. Namanya ada (siswa) yang menyatakan dia suka berpolitik," katanya kepada merdeka.com di SMAN 87 Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (11/10).

Patria membantah bila pihak sekolah menyisipi kepentingan politik tertentu kepada NK supaya para siswa terpengaruh. Menurutnya, NK memutar video tersebut merupakan spontan karena ada mata pelajaran terkait jenazah.

"Enggak, enggak ada sekolah kayak begitu, saya juga syok dengan kejadian ini jujur saja. Sekolah harus netral. Seluruh briefing saya setiap pagi menyatakan ini tempat netral, sebelum terjadi kasus," ujarnya.

"Kalau saya tahu, pandangan dia milih siapa saya tahu persis, saya tahu persis, makanya saya bilang Ibu terlalu berani. Saya tahu persis kalau itu," tambahnya.

NK di SMAN 87 Jakarta merupakan guru siswa kelas 10 dan 12 SMA IPA dan IPS. Sayang, pihak sekolah tak membeberkan rinci mana siswa yang diduga didoktrin NK lewat video bencana tersebut.

"Saya enggak paham ketika dia mengajar itu sampai timbul persepsi yang salah waktu dia ngajar di kelas mana, kan (kita) juga menutupi identitas orangtua anak yang mengadu itu," ucapnya.

Menurutnya wajar jika NK punya dukungan politik kepada capres tertentu. Tetapi, mestinya NK tidak mengungkapkan secara tersirat pandangan politiknya di sekolah.

"Kalau saya nilai dia punya keyakinan ia dong, bisa jadi pilihan dia sama dengan pilihan saya, atau pilihan anda berbeda dengan saya, bisa saja. Cuma yang saya sesalkan dia tidak boleh melakukan itu di sekolah, apalagi menurut dugaan mengopinikan anak anak," tuturnya.

Bagi Patra kasus ini merupakan tamparan keras untuk SMAN 87 Jakarta. Dia mengambil hikmah atas kejadian ini, bahwa sebagai tenaga pendidik mesti pandai menjaga lisan dan sikap.

"Ini contoh apabila kita salah lisan, mungkin dia menyatakan khilaf, ternyata ada anak yang pintar, cerdas, bisa menginterpretasikan berbeda jadinya seperti ini. Saya selalu sampaikan guru-guru di 87 tolong ingat kita punya jaket pegawai negeri sipil ada aturannya, yang paling mudah dipahami adalah PP 53 2010, tolong ingat itu saja," imbuh Patra. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini