IKA Unair Tulungagung Pimpin Penghijauan Bukit Dondong, Upaya Mitigasi Bencana dan Pelestarian Lingkungan

Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Cabang Tulungagung berkolaborasi dalam gerakan Penghijauan Bukit Dondong. Inisiatif ini bertujuan mengurangi risiko bencana alam dan menjaga kelestarian lingkungan vital di Tulungagung Selatan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
IKA Unair Tulungagung Pimpin Penghijauan Bukit Dondong, Upaya Mitigasi Bencana dan Pelestarian Lingkungan
Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Cabang Tulungagung berkolaborasi dalam gerakan Penghijauan Bukit Dondong. Inisiatif ini bertujuan mengurangi risiko bencana alam dan menjaga kelestarian lingkungan vital di Tulungagung Selatan. (AntaraNews)

Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Cabang Tulungagung bersama berbagai komunitas dan sekolah, baru-baru ini menggelar kegiatan penghijauan di kawasan Bukit Dondong, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Aksi bertajuk "Kolaboraksi Part 2: Penghijauan Tulungagung Selatan" ini merupakan langkah konkret dalam upaya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan. Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif dari Forum Komunitas Hijau Tulungagung, Sekolah Adiwiyata, Yayasan Imam Syafi’ie Tulungagung, Kantor Kecamatan Tanggunggunung, serta Komunitas Parjogundo (Pasar Jogging Gunung Dondong).

Ketua IKA Unair Cabang Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, menjelaskan bahwa kegiatan penghijauan ini adalah tindak lanjut dari inisiatif serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung. Fokus utama dari gerakan ini adalah mengatasi kondisi lahan kritis yang tersebar luas di wilayah pegunungan selatan Tulungagung. Kondisi lahan yang memprihatinkan ini telah menimbulkan dampak serius bagi masyarakat sekitar, seperti seringnya terjadi banjir dan tanah longsor.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif di tengah masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, khususnya di area pegunungan. Degradasi tutupan lahan yang masih banyak terjadi di kawasan tersebut menjadi perhatian utama. Desi Lusiana Wardhani berharap masyarakat dapat berpartisipasi aktif mengembalikan fungsi pegunungan selatan menjadi hutan tanaman keras sebagai bentuk ikhtiar bersama dalam mencegah bencana alam di masa depan.

Urgensi Penghijauan untuk Mitigasi Bencana

Kondisi pegunungan selatan Tulungagung yang kritis menjadi latar belakang utama digelarnya gerakan Penghijauan Bukit Dondong. Lahan yang gundul dan tutupan lahan yang berkurang drastis menyebabkan wilayah ini rentan terhadap bencana alam. Banjir dan tanah longsor menjadi ancaman nyata yang sering dirasakan oleh warga, terutama saat musim penghujan tiba. Oleh karena itu, upaya penghijauan ini menjadi krusial untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Degradasi lingkungan tidak hanya berdampak pada risiko bencana, tetapi juga mengancam ketersediaan sumber daya air. Bukit Dondong, yang memiliki setidaknya 10 sumber mata air aktif bahkan saat musim kemarau, merupakan kawasan resapan air yang sangat vital bagi warga sekitar. Keberadaan hutan tanaman keras di kawasan ini akan membantu menjaga siklus hidrologi dan memastikan pasokan air bersih tetap terjaga untuk kebutuhan masyarakat.

Camat Tanggunggunung, Deddy Eka Purnama, menyambut baik inisiatif kolaboratif ini. Menurutnya, penghijauan adalah langkah penting untuk mengurangi risiko longsor dan banjir saat musim hujan, sekaligus mencegah kekeringan ekstrem pada musim kemarau. Dukungan dari pemerintah setempat menegaskan bahwa program ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan di daerah.

Kolaborasi Multi Pihak untuk Lingkungan Lestari

Keberhasilan program Penghijauan Bukit Dondong ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. IKA Unair Cabang Tulungagung bertindak sebagai inisiator yang berhasil menggalang kekuatan dari beragam komunitas dan lembaga. Keterlibatan Forum Komunitas Hijau Tulungagung dan Sekolah Adiwiyata menunjukkan adanya partisipasi aktif dari elemen masyarakat yang peduli lingkungan.

Selain itu, Yayasan Imam Syafi’ie Tulungagung dan Kantor Kecamatan Tanggunggunung turut memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk sumber daya maupun fasilitasi. Komunitas Parjogundo, yang merupakan Komunitas Pasar Jogging Gunung Dondong, juga memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian Bukit Dondong. Mereka adalah garda terdepan yang memahami kondisi lapangan dan tantangan yang ada.

Perwakilan Komunitas Parjogundo, Achmad Rangie, menekankan pentingnya kelestarian Bukit Dondong karena posisinya yang berada di atas permukiman warga dan berfungsi sebagai penyangga ekologis. Kawasan ini sempat mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan, sehingga kesadaran bersama sangat diperlukan agar fungsi ekologisnya tetap terjaga. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam penanganan isu lingkungan.

Pengembangan Hutan Edukasi dan Harapan ke Depan

Melihat potensi dan urgensi pelestarian, Komunitas Parjogundo tidak berhenti pada kegiatan penghijauan saja. Mereka telah mengajukan permohonan kepada Perum Perhutani untuk dapat mengelola lahan kritis seluas sekitar 10 hektare di sekitar Bukit Dondong. Lahan tersebut rencananya akan dihijaukan kembali dan dikembangkan menjadi kawasan hutan edukasi. Inisiatif ini menunjukkan visi jangka panjang untuk keberlanjutan lingkungan.

Pengembangan hutan edukasi ini akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat, tidak hanya sebagai area konservasi tetapi juga sebagai sarana pembelajaran. Anak-anak sekolah dan masyarakat umum dapat belajar langsung mengenai pentingnya menjaga lingkungan, jenis-jenis pohon, serta manfaat hutan bagi kehidupan. Ini sejalan dengan upaya menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Camat Tanggunggunung, Deddy Eka Purnama, berharap gerakan penghijauan seperti ini dapat terus meluas dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat di masa mendatang. Dengan partisipasi yang lebih besar, upaya pelestarian lingkungan akan semakin kuat dan dampak positifnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh seluruh warga Tulungagung. Kolaborasi dan kesadaran kolektif adalah kunci utama dalam menjaga keberlanjutan alam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi