Idul Adha, warga berharap berkah dari sepasang gunungan Keraton Surakarta

Rabu, 22 Agustus 2018 20:33 Reporter : Arie Sunaryo
Idul Adha, warga berharap berkah dari sepasang gunungan Keraton Surakarta warga berebut sepasang gunungan Keraton Surakarta. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Peringatan Hari Raya Idul Adha secara khusus dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu (22/8). Sepasang gunungan jaler dan estri yang diarak dari Kori Kamandungan ke Masjid Agung, menjadi rebutan warga yang datang.

Gunungan jaler atau laki-laki terbuat dari sejumlah hasil bumi. Diantaranya kacang panjang, wortel, terong, cabai, telur asin dan kenyamanan yang berbahan dasar singkong. Sedangkan gunungan estri atau perempuan berisi reginan (makanan yang terbuat dari nasi). Selain dua gunungan besar tersebut, masih ada 10 gunungan kecil atau tumpeng.

Ratusan abdi dalem sejak pukul pagi sudah berkumpul di keraton peninggalan dinasti Mataram itu. Tepat pukul 10.00 sejumlah abdi dalem menandu gunungan untuk dibawa ke Masjid Agung Keraton yang berjarak sekitar 300 meter.

Barisan diawali dengan iring-iringan marching band, serta prajurit keraton dan ratusan sentana serta abdi dalem. Para petinggi keraton juga nampak dalam kegiatan tersebut. Iring-iringan dilepas dari Kori Kamandungan atau pintu utama menuju Jalan Sipil Urang, Alun-alun Utara hingga berakhir di masjid.

Sesampai di Masjid Agung dua gunungan besar didoakan oleh ulama keraton. Usai didoakan, Gunungan jaler langsung menjadi rebutan warga yang sudah menunggu sejak pagi. Sedangkan gunungan estri dibawa prajurit keraton ke halaman keraton dan juga menjadi rebutan warga. Dalam waktu singkat, kedua gunungan ludes tak tersisa.

"Saya dapat kacang panjang mas. Nanti kita masak sayur di rumah buat lauk. Semoga dapat berkah dari Tuhan," ujar Wagiyem (65), warga Desa Tlogolele, Wonosari, Klaten.

Menurut dia, acara gerebek tersebut sudah dinantikan lama. Ia bersama beberapa kerabat dan tetangga sudah datang sejak pagi. Bahkan ia juga mengikuti dan melaksanakan salat Idul Adha di Masjid Agung Keraton Surakarta. Tak hanya Idul Adha, ia juga selalu datang pada acara gerebek keraton lainnya.

Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Moh Muhtarom, menjelaskan ada 3 kegiatan gerebek yang digelar dalam setiap tahunnya. Yakni Gerebek Mulud atau Maulid Nabi, Gerebek Poso atau setelah puasa dan Gerebek Besar untuk memperingati Idul Adha.

"Yang membedakan ketiganya itu adalah penyelenggaraannya. Gerebek Mulud diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Gerebek poso diselenggarakan setiap Syawal untuk memperingati Idul Fitri," terangnya.

Muhtarom yang juga Ketua Takmir Masjid Agung ini menuturkan, simbol-simbol yang digunakan dalam gerebek tersebut sama. Yakni dengan mengarak gunungan. Pada pelaksanaan Gerebek Mulud selalu mengarak 12 macam gunungan. Kemudian pada peringatan Idul Adha selalu diawali dengan penyerahan hewan kurban dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung.

"Kalau garebek poso diawali penyerahan zakat fitrah dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung untuk dibagikan kepada warga masyarakat," jelasnya lagi.

Dalam pelaksanaan Gerebek Besar kali ini, dimaksudkan sebagai wujud syukur atas rejeki yang diberikan Allah SWT kepada keraton dan masyarakat Solo, yang diwujudkan dalam bentuk gunungan. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini