Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

IDI: 70 Persen Warga Indonesia Melakukan Pengobatan Mandiri

IDI: 70 Persen Warga Indonesia Melakukan Pengobatan Mandiri Ketua PB IDI Daeng M Faqih. ©Istimewa

Merdeka.com - Ketua Ikatan Dokter Indonesia Daeng M Faqih menyebut 70 persen masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi atau masih melakukan pengobatan sendiri. Tidak periksa ke dokter ataupun ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Berdasarkan data survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, sebesar 71,46 persen masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi. Angka ini terus naik selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2017, 69,43 persen dan pada tahun 2018 yaitu 70,74 persen.

“Saya lihat data BPS tahun 218 itu 70 persen warga Indonesia melakukan swamedikasi. Mereka tidak datang ke rumah sakit atau puskesmas, tapi swamedikasi,” ujar Daeng dalam webinar yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Governments Asia Pacific bersama APEKSI, Rabu (2/9).

Daeng menambahkan, dari rata-rata 70 persen itu, provinsi yang melakukan swamedikasi dengan persentase terkecil bukanlah Ibu Kota Jakarta, melainkan Bali. Hanya 53, 6 persen warga Bali yang melakukan swamedikasi. Sedangkan yang tertinggi adalah Kalimantan Selatan. 85,6 persen. DKI Jakarta masih di bawah angka nasional, yakni 67,5 persen.

Oleh karena itu, Daeng menyimpulkan, meskipun distribusi pelayanan kesehatan di kota sudah baik, namun ternyata masyarakat masih enggan untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter.

“Jadi di perkotaan sekalipun, masyarakat kita kalau mencari pertolongan kesehatan tuh bukan ke dokter atau ke perawat, mereka mengobati dirinya sendiri,” ujarnya.

Menurut Daeng, swamedikasi hanya akan menimbulkan masalah baru. Dia merasa perlu adanya penelitian untuk mengetahui penyebab sebagian besar masyarakat Indonesia tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan. Padahal kata Daeng, pelayanan kesehatan di Indonesia semakin hari, semakin baik. Apalagi di perkotaan besar.

“Mereka mengobati dengan kesimpulannya sendiri padahal bukan ahlinya, nah ini bisa bermasalah. Saya tidak tahu mengapa, ini perlu digali. Apakah terlalu sibuk sehingga tidak sempat ke dokter? Atau malas karena antri terlalu lama?” tanya Daeng.

Dia mengimbau masyarakat Indonesia untuk membiasakan diri melakukan pemeriksaan kesehatan di layanan kesehatan. Namun di saat pandemi Covid-19 ini, ia mengimbau untuk berkonsultasi dengan dokter secara online untuk menghindari penularan Covid-19. Dia menyarankan aplikasi telemedicine yang sudah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan agar diagnosis yang diberikan aman.

“Saya kira di tengah pandemi Covid-19, telemedicine bisa menutupi persoalan ini,” katanya.

Ada tiga aspek yang harus diperhatikan oleh suatu layanan kesehatan yaitu akses, mutu dan keselamatan. Menurutnya, keselamatan pasien menjadi yang utama. Oleh karena itu, dengan penggunaan teknologi digital diharapkan prinsip dunia kedokteran bisa diterapkan, yaitu patient centeredness.

“Ada prinsip yang harus dicapai, kepentingan pasien menjadi tujuan utama dalam pelayanan. Nah kalau online, bisa memonitor pasien lebih sering dan lebih mudah. Hubungan masyarakat dengan tenaga kesehatan juga lebih erat,” ujarnya.

Dalam diskusi yang sama, Ketua Aliansi Telemdikasi Indonesia (Atensi), Prof Purnawan Junadi menyebutkan, jumlah rata-rata pembaca artikel telemedicine per harinya sebanyak 5.229.802 orang. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia cenderung mencari tahu tentang kondisi kesehatannya melalui internet.

Purnawan mengatakan untungnya saat ini sudah banyak aplikasi telemedicine yang terhubung ke internet. Sehingga artikel yang dibaca masyarakat merupakan artikel yang bisa dipertanggungjawabkan di bidang kesehatan.

“Data di bulan April, pembaca per harinya lebih dari 5,2 juta orang. Nah yang konsultasi itu 140 ribu lebih per hari. 13 ribu konsultasi soal Covid-19, sisanya tentang penyakit lain,” kata Purnawan.

Selain itu, Purnawan juga memaparkan data bahwa masyarakat Indonesia juga cenderung memilih rapid test online di berbagai aplikasi telemedicine. Rata-rata 6.750 orang setiap harinya melakukan rapid test online. Dari jumlah tersebut, rata-rata yang reaktif 83 orang per harinya.

(mdk/ray)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP