Ide Serangan Umum 1 Maret, dari Soeharto atau Sultan?

Sabtu, 1 Maret 2014 03:01 Reporter : Ramadhian Fadillah
Ide Serangan Umum 1 Maret, dari Soeharto atau Sultan? ilustrasi serangan umum 1 maret. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949 masih menjadi kontroversi. Siapa sebenarnya yang pertama kali menggagas serangan yang membuka mata dunia itu? Soeharto atau Sri Sultan Hamengkubuwono IX?

Selama Orde Baru, film dan buku-buku yang beredar terus mengkultuskan peran Soeharto sebagai penggagas sekaligus pelaku utama serangan umum 1 Maret. Pelaku lainnya dipinggirkan. Kini pelan-pelan sejarah mulai coba diluruskan.

Seperti tertulis dalam buku 'Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI AD' yang diterbitkan Dinas Sejarah Militer TNI AD, tahun 1972, dituliskan Soeharto adalah inisiator Serangan Umum 1 Maret. Saat itu Komandan Brigade X/Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto merasa perlu melakukan sebuah serangan di siang hari yang menunjukkan TNI masih ada.

Serangan di siang hari dirasa perlu dilakukan sebab Belanda selalu mengklaim serangan di malah hari hanya dilakukan bandit. Bukan oleh TNI yang selalu disebut Belanda sudah bubar sejak Agresi Militer II.

Komandan Wehrkreise III memutuskan untuk mengadakan serangan umum ke Yogyakarta pada siang hari dengan beberapa tujuan. Di bidang politis, memberikan dukungan yang kuat kepada usaha diplomatik Republik Indonesia di Dewan Keamanan PBB dan dunia internasional.

Dampak psikologis, supaya rakyat dan daerah-daerah lain yang masih berjuang, merasa bahwa ibu kotanya masih dipertahankan. Selain itu untuk menimbulkan kerugian dan mematahkan moril pasukan-pasukan Belanda.

Saat akan melakukan serangan, Soeharto melapor pada Sultan dan Sultan pun memberikan restu. Seolah-olah Sultan sama sekali tidak memiliki andil hanya menyetujui rencana serangan tersebut.

Kenapa Soeharto ingin dikenang sebagai penggagas serangan Umum 1 Maret? Mungkin Soeharto ingin menebus kesalahannya saat Belanda menggelar Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948.

Saat itu, dalam waktu singkat Belanda dapat dengan mudah merebut Yogyakarta. Sebagai komandan Wehrkreise III yang membawahi Kota Yogyakarta, tentu Soeharto merasa ditampar. Apalagi atasannya, termasuk Kolonel AH Nasution menilai Soeharto terlalu lambat bergerak mengantisipasi serangan Belanda.

Sejarawan Asvi Warman Adam mengkritik dominasi peran Soeharto tersebut. Berdasarkan fakta-fakta, Soeharto yang hanya berpangkat Letnan Kolonel jelas tidak mungkin menginisiasi serangan tersebut. Asvi yakin Soeharto hanya pelaksana di lapangan. Inisiator sesungguhnya pasti Sultan Hamengkubuwono IX.

"Sejauh mana Soeharto bisa memantau siaran radio luar negeri. Ide awal pasti datang dari Sultan yang selalu memantau situasi politik luar negeri lewat radio. Sultan tahu akan ada sidang PBB. Beliau ingin ada sesuatu hal yang bisa membuktikan Republik Indonesia masih ada," ujar Asvi kepada merdeka.com.

Siapa penggagas serangan Umum 1 Maret ini juga jelas ditulis dalam buku 'Takhta Untuk Rakyat'. Saat itu Sultan merasa was-was semangat juang TNI dan rakyat terus menurun. Di sisi lain, Sultan tahu masalah Indonesia dan Belanda akan dibicarakan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sultan menginginkan ada serangan umum siang hari, yang walau tidak bisa mengusir Belanda dari Yogyakarta tapi bisa menunjukkan TNI masih ada. Hal itu akan memperkuat posisi Indonesia dalam forum tersebut.

Sultan pun mengirim kurir pada Panglima TNI Jenderal Soedirman. Sultan juga minta dipertemukan dengan pemimpin pasukan Gerilya di Yogya. Kebetulan Soeharto adalah Komandan Wehrkreise III yang membawahi Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Soeharto menyanggupi permintaan Sultan. Sebelumnya beberapa kali memang pasukan TNI telah mengganggu pos-pos Belanda pada malam hari. Namun untuk sebuah serangan secara terkoordinasi pada siang hari, belum pernah dilakukan TNI.

Serangan Umum 1 Maret pun digelar. Selama 6 jam pasukan TNI berhasil menguasai Kota Yogyakarta. Berita serangan ini langsung disiarkan ke seluruh dunia. Misi Serangan Umum 1 Maret berhasil.

Setelah serangan umum, berkali-kali Belanda mendatangi Sultan di Keraton. Termasuk Jenderal Meyer, panglima tentara Belanda di Indonesia ikut datang meminta Sultan menghentikan bantuannya pada pasukan gerilya. Namun mereka gagal menakut-nakuti Sultan. Keahlian diplomasi pria Jawa lulusan universitas Leiden ini mengalahkan para jenderal Belanda. Mereka pun pulang dengan tangan hampa.

"Peran Sultan selama Orde Baru memang sangat dipinggirkan. Padahal Sultan sangat berperan selama perang kemerdekaan. Bukan hanya saat Serangan Umum 1 Maret saja. Tapi kan selama Orde Baru ini seolah-olah Sultan tidak berperan apa-apa," kritik Asvi. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Serangan Umum 1 Maret
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini