PT Hutama Karya (Persero), melalui anak perusahaannya PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), bergerak cepat membuka kembali akses jalan provinsi Padang-Bukittinggi. Jalur vital ini tertimbun longsor dan terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kejadian pada Jumat, 26 Desember 2025, menyusul curah hujan tinggi sejak akhir November 2025.
Bencana hidrometeorologi tersebut, berupa tanah longsor dan jalan amblas, telah mengganggu konektivitas dua kota penting. Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpotensi merugikan perekonomian lokal. Oleh karena itu, percepatan penanganan menjadi prioritas utama bagi HKI dan pihak terkait.
Untuk mengatasi situasi darurat ini, HKI telah menurunkan 36 unit alat berat, termasuk ekskavator dan loader. Ratusan petugas juga dikerahkan di lapangan. Tim gabungan ini fokus membersihkan material longsor dan mencari akses alternatif agar masyarakat dapat kembali menggunakan jalan. Penanganan difokuskan pada ruas jalan terparah, khususnya area Malalak hingga Balingka.
Advertisement
Advertisement
PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) telah mengidentifikasi dan menangani sejumlah titik kritis di sepanjang jalan alternatif Padang-Bukittinggi. Sebanyak 36 unit alat berat, seperti ekskavator dan loader, dikerahkan untuk membersihkan material longsor yang menimbun badan jalan. Area penanganan utama meliputi Malalak hingga Balingka, Kabupaten Agam, yang menjadi lokasi terparah terdampak bencana hidrometeorologi.
Menurut Supervisor Health, Safety, Security, and Environment PT HKI, Budi Setia Prayoga, selain alat berat, ratusan petugas juga diterjunkan untuk mempercepat proses pembukaan akses. "Kita juga mengerahkan ratusan petugas untuk membuka akses yang tertimbun material tanah longsor," kata Budi di Lubuk Basung, Jumat.
Operasi pembersihan ini mencakup sekitar 28 kilometer ruas jalan alternatif yang membentang dari Malalak Selatan menuju Simpang Balingka. Pembukaan jalan telah dimulai di ruas 87, tepatnya antara Simpang Balingka menuju perbatasan Kecamatan Malalak, dengan dua alat berat yang sudah beroperasi. Alat berat lainnya juga terus bekerja membersihkan timbunan tanah longsor dari arah Malalak Selatan.
Advertisement
Advertisement
Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 telah menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur jalan. Berdasarkan pantauan drone, setidaknya ada lima titik badan jalan yang mengalami amblas. Kerusakan ini sangat signifikan, dengan panjang jalan yang amblas berkisar antara 20 hingga 120 meter, membuat jalur tersebut tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kondisi jalan yang amblas dan tertimbun tanah longsor ini merupakan dampak langsung dari curah hujan yang sangat tinggi. HKI mengakui bahwa tantangan utama adalah memulihkan akses secepat mungkin. Budi Setia Prayoga menegaskan bahwa HKI sedang mencari akses agar masyarakat bisa melewati jalan tersebut. "Apabila akses tidak dibuka, berdampak terhadap ekonomi masyarakat," jelasnya, menyoroti urgensi pemulihan jalur distribusi dan mobilitas warga.
Koordinasi dengan dinas terkait menjadi langkah penting untuk menentukan target penyelesaian dan penanganan jangka panjang. Meskipun demikian, prioritas utama saat ini adalah memastikan akses darurat dapat segera dibuka. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen HKI untuk mendukung pemulihan pasca-bencana dan menjaga kelancaran aktivitas ekonomi serta sosial masyarakat di wilayah terdampak.
Advertisement
Sumber: AntaraNews