Gegap gempita peringatan HUT Kemerdekaan RI berlangsung di seantero penjuru negeri. Termasuk di pelosok desa di Bondowoso. Warga Desa Kembang menggelar upacara bendera di sebuah kebun kecil yang bersebelahan dengan kuburan desa.
"Kami ingin agar semangat patriotisme kemerdekaan tetap terjaga hingga ke anak cucu. Generasi muda harus sadar, bahwa para pendahulu kita dulu meraih kemerdekaan perjuangan, bukan diberi oleh bangsa lain," ujar Peltu Giyono Adi Solik, Ketua RW 8 Desa Kembang, Kecamatan Kota, Bondowoso, Sabtu (17/8).
Meski sederhana, warga nampak antusias mengikuti upacara bendera. Dengan persiapan singkat, para petugas pengibar bendera tetap menjalankan tugas sesuai protokoler yang berlaku.
"Lumayan spontan, tapi kami sudah berlatih upacara sejak sekitar seminggu yang lalu," ujar purnawirawan TNI sejak tahun 2006 lalu ini.
Sejumlah petugas pengibar bendera terlihat melakukan kesalahan. Warga yang ikut upacara pun menahan tawa. Namun, tawa tersebut ditegur oleh warga lainnya sehingga upacara kembali khidmat.
Menariknya, usai upacara bendera, warga mengadakan drama kolosal yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Drama kolosal diperankan oleh anak-anak warga desa setempat yang masih berusia SD dan SMP. Senjata mainan plastik digunakan untuk properti drama dalam adegan tembak menembak.
Tak lupa, beberapa pemain yang mengenakan seragam sekolah untuk pejuang dan seragam pramuka untuk pihak musuh, dicat berwarna merah sebagai tanda darah.
"Sekarang memang banyak yang unik-unik ya. Jadi kami juga ikut-ikutan menggelar upacara kemerdekaan disusul drama kolosal perjuangan para pendahulu," ujarnya.
Untuk menambah semarak peringatan kemerdekaan, sebelum pementasan drama kolosal diadakan pertunjukan atraksi dan tari.
"Tadi malam, sebelum upacara, kita menggelar upacara renungan. Kalau di TNI istilahnya seperti renungan suci. Kami ingin mengajak warga, khususnya generasi muda untuk merefleksikan dan mengenang perjuangan para pahlawan sehingga kita sekarang bisa merasakan kemerdekaan," papar Giyono.
Advertisement