Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harga Tak Kunjung Stabil, Daya Beli Petani di Sumsel Turun Drastis

Harga Tak Kunjung Stabil, Daya Beli Petani di Sumsel Turun Drastis Sawah. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Petani di Sumatera Selatan masih kesulitan dalam memperoleh kebutuhan keluarga lantaran harga hasil perkebunan tak kunjung stabil. Beragam faktor menyebabkan harga di tingkat petani belum juga tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengungkapkan, tiga komoditas andalan Sumsel yakni karet, kelapa, dan kopi belum juga stabil. Kondisi ini mempengaruhi indeks nilai tukar petani (NTP) yang menurun drastis.

Pada Desember 2020, NTP sebesar 105,23 persen dan Januari 2021 menjadi 102,35 persen atau turun 2,74 persen. NTP ini mengukur indeks harga barang atau jasa yang dibayar petani untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.

"Daya beli petani di Sumsel menurun drastis dibanding akhir tahun lalu. Penyebabnya karena harga hasil perkebunan belum stabil atau bahkan terus terjadi penurunan," ungkap Endang, Senin (1/2).

Selain itu, kondisi ini diperparah dengan inflasi yang terus meningkat. Pada Januari 2021, inflasi pedesaan di provinsi itu sebesar 0,65 persen akibat naiknya harga barang dan jasa di hampir seluruh kelompok pengeluaran petani.

"Mestinya dilakukan upaya memotong rantai distribusi agar inflasi bisa ditekan. Dengan demikian daya beli petani bisa terjaga bahkan bisa meningkat," ujarnya.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian mengakui NTP di tiga komoditas unggulan di Sumsel belum membaik. Terkhusus karet, penurunan harga cenderung karena pasar global belum stabil akibat pandemi Covid-19. Bahkan, beberapa negara tujuan ekspor belum membuka secara penuh pengiriman bahan baku dari Indonesia.

"Mereka saat ini masih wait and see, belum banyak meminta kiriman dari kita. Penurunan harga juga akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata dia.

Kemudian, petani juga dihadapkan dengan fenomena La Nina dan gugur daun. Akibatnya terjadi penurunan produksi petani yang kini hanya mampu menghasilkan 80-100 kilogram per hektare per minggu atau di bawah angka normal 150 kg per hektare per minggu.

Untuk meningkatkan harga di tingkat petani, pihaknya terus menggalakkan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPBB) dengan tujuan memotong rantai niaga yang terlalu panjang. Harga karet tanpa melalui UPBB hanya Rp 6.000-7.000 per kg, sementara secara UPBB bisa tembus di harga Rp 9.000-an per kg.

"Kami akui harga karet per kilo masih jauh di bawah harga beras per kilonya, wajar saja daya beli petani terbilang rendah," pungkasnya.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP