Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Habitatnya rusak, satwa endemik Bekantan mencari makan ke kebun sawit

Habitatnya rusak, satwa endemik Bekantan mencari makan ke kebun sawit Bekantan di kebun sawit. ©2017 HO/Yaya Rayadin

Merdeka.com - Habitat satwa langka Kalimantan, Bekantan (Nasalis Larvatus) sejatinya di kawasan rivarian atau kiri dan kanan sungai serta kawasan hutan Mangrove. Namun beberapa waktu terakhir mereka masuk ke areal perkebunan sawit. Diindikasikan, kondisi tersebut karena habitat asli mereka semakin rusak.

Fakta itu terungkap melalui hasil penelitian dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Yaya Rayadin, bekerjasama dengan tim Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) Kalimantan Timur, menggunakan studi kamera trap, yang disebar di kawasan perkebunan sawit, pertambangan, Hutan Tanam Industri (HTI), kawasan konservasi dan kawasan lindung di Kalimantan Timur.

"Selama menggunakan kamera trap dalam 4 tahun ini, merekam dan memotret beberapa bekantan yang bergerak di atas permukaan tanah," kata Yaya, dalam penjelasan dia, Kamis (23/11) sore.

bekantan di kebun sawit

"Selama ini kita hanya mengenal bahwa Bekantan hanya hidup dan bergerak di atas pohon itu pun di dalam habitat yang khusus, yaitu di kawasan rivarian (kanan kiri sungai) dan mangrove," ujar Yaya.

"Ironisnya lagi pergerakan Bekantan di atas permukaan tanah tersebut justru terekam di kawasan perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan kawasan reklamasi tambang. Kawasan itu selama ini dikenal bukan sebagai habitat Bekantan," ungkap Yaya.

Bekantan, lanjut Yaya, merupakan satwa endemik Pulau Borneo, di mana di dunia hanya hidup di Pulau Kalimantan dan hanya tersebar di beberapa tipe habitat mangrove dan rivarian. Mereka merupakan satwa yang hidup secara berkelompok dan sangat tergantung kepada vegetasi mangrove dan beberapa jenis pohon di wilayah rivarian.

"Karena sangat sensitifnya primata Bekantan ini, sangat jarang sekali menemukan hewan ini di kebun binatang," terang Yaya.

bekantan di kebun sawit

Jumlah populasi Bekantan di Kepulauan Borneo, secara khusus belum pernah dihitung. Namun bila mengkompilasi hasil berbagai penelitian yang dilakukan di beberapa tempat di wilayah Sabah, Brunei, Serawak dan Kalimantan diperkirakan populasinya tinggal 15.000 sampai dengan 20.000-an ekor saja.

"Adanya perubahan perilaku pergerakan Bekantan dari arboreal (bergerak di atas tajuk pohon) ke Terestrial (bergerak di atas permukaan tanah) akan membawa beberapa konsekuensi kepada terganggunya kelestarian populasi Bekantan," ungkap Yaya.

"Bekantan yang berpindah dan bergerak di atas tanah, menjadi indikator kalau habitatnya sudah rusak dan kurangnya sumber pakan untuk kelangsungan hidupnya. Sehingga Bekantan bergerak cari sumber pakan ke tempat lain, termasuk kawasan perkebunan sawit, pertambangan dan juga kawasan HTI."

Dia menambahkan, kondisi bekantan masuk kebun sawit sangat rawan dimangsa satwa lain misalnya oleh ular piton, macan dahan.

"Bahkan untuk yang kecil sangat potensial untuk diterkam kucing hutan," tutur Yaya.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP