Gumuk Pasir Parangkusumo peristiwa langka di dunia
Merdeka.com - Ahli Geologi sekaligus Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional, Eko Teguh Paripurno, menanggapi rencana pemerintah dalam merestorasi zona inti gumuk pasir di sepadan pantai Parangkusumo. Menurutnya, gumuk pasir merupakan fenomena alam yang langka sehingga perlu dijaga kelestariannya.
"Gumuk pasir itu senilai dengan candi Borobudur dan Prambanan. Di seluruh dunia, hanya ada beberapa gumuk pasir," ujar Eko, Selasa, (11/10), di Yogyakarta.
Eko menjelaskan, proses terbentuknya gumuk pasir Parangkusumo tercipta dari hasil proses yang dipengaruhi oleh angin, Gunung Merapi, Graben Bantul, dan Sungai Opak. Material gumuk pasir berasal dari material hasil erupsi Merapi.
Material erupsi Merapi kemudian terbawa oleh aliran sungai hingga ke pantai di selatan DIY tersebut. Setelah material pasir sampai ke laut, terdapat intervensi dari ombak laut sehingga material mengendap dan selanjutnya diterbangkan oleh angin.
"Di zaman panembahan Senopati (Kerajaan Mataram), gumuk pasir itu sempit tidak seluas sekarang. Gumuk pasir semakin luas karena material dari erupsi Merapi," ujarnya.
Kelangkaan gumuk pasir tersebut membuat Eko menilai langkah pemerintah dalam merestorasi zona inti gumuk pasir merupakan langkah tepat. Meski demikian, Eko juga menjelaskan bahwa areal gumuk pasir itu terbagi menjadi dua penggolongan.
"Ada areal gumuk pasir hidup (yang dapat berkembang jumlahnya) dan pasir mati (yang tidak dapat berkembang jumlahnya)," ujarnya.
Eko menjelaskan lebih lanjut, areal gumuk pasir yang tergolong mati atau tak dapat berkembang tersebut yang semestinya dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai lahan pertanian dan permukiman penduduk. Ia menilai, semestinya pemerintah tak perlu menggusur warga Parangkusumo yang terdampak rencana restorasi gumuk.
"Pemerintah semestinya hanya perlu memetakan areal gumuk pasir yang dapat dimanfaatkan sebagai pertanian dan permukiman. Sehingga warga Parangkusumo yang terdampak dapat dipindahkan tanpa mencabut akar kehidupan sosial," ujarnya.
Eko yang pernah menerima penghargaan UN Sasakawa Award for Disaster Reduction pada 2009 di Jenewa tersebut mengaku akan membentuk tim untuk melakukan pemetaan kawasan gumuk pasir. Hal itu sebagai bahan pertimbangan untuk pemerintah agar menghindari konflik sosial berkepanjangan.
"Ayo kita menata ulang gumuk. Buat pemetaan tempat yang tidak bisa tumbuh gumuknya, tempat subur tumbuhnya gumuk, dan tempat gumuk liar. Kita kembalikan lagi bahwa gumuk untuk rakyat," imbuh Eko.
Sementara itu, Ketua Satpol-PP Kabupaten Bantul, Hermawan Setiadji, menjelaskan warga terdampak pemulihan zona gumuk pasir yang memiliki KTP berdomisili di Bantul dijanjikan akan disediakan rumah susun yang berada di Karang Turi, Bantul. Sedangkan warga terdampak yang tidak ber-KTP Bantul akan diberikan pesangon uang untuk pulang ke asalnya masing-masing.
"Untuk yang berminat KTP Bantul kita akan sediakan rumah susun di Karang Turi, Bantul. Sedangkan yang KTP luar Bantul, akan kita beri uang saku untuk dipulangkan," papar Hermawan Setiadji, pekan lalu.
(mdk/hhw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya