Gubernur Bali Wayan Koster menanggapi isu yang menyebut Nusa Penida dilarang maju setelah pemerintah memutuskan pembongkaran proyek lift kaca di Pantai Kelingking.
Ia menegaskan bahwa penghentian pembangunan bukan berarti kawasan tersebut tidak boleh berkembang.
“Ada isu kok Nusa Penida enggak boleh maju, di tempat lain boleh maju. Ini bukan soal begitu, kita paham Nusa Penida itu adalah berlian-nya Bali, berlian-nya Indonesia. Harus kita tata dengan sangat baik, apalagi tempat itu adalah tempat yang sangat sakral bukan tempat biasa,” ujar Koster saat Rapat Paripurna DPRD Bali di Denpasar, Senin (1/12).
Ia menambahkan, karakteristik kawasan Kelingking berbeda dibanding wilayah Bali lainnya.
“Beda dengan tanah kering di sini dengan tanah kering di Kubu. Ini sakral tempat ini, hati-hati,” katanya.
Koster menjelaskan, keputusan membongkar lift kaca merupakan langkah tegas yang direkomendasikan Pansus TRAP DPRD Bali.
“Ini keputusan paling terbaik yang harus dilakukan atas rekomendasi Pansus TRAP,” ujarnya.
Advertisement
Pemprov Siapkan Penataan Baru
Gubernur Koster mengungkapkan bahwa Pemprov Bali dan Pemerintah Kabupaten Klungkung sedang menyiapkan konsep penataan kawasan Pantai Kelingking agar pembangunan berjalan terarah.
“Supaya terarah pembangunannya ke depan, di mana boleh, di mana tidak boleh. Dan jenis apa yang cocok untuk di wilayah itu. Tidak semua cocok di tempat lain cocok juga untuk di Nusa Penida,” jelasnya.
Ia memastikan pembangunan tetap diperbolehkan asalkan mematuhi persyaratan perizinan.
“Tata ruangnya harus benar, Amdal juga harus benar serta persyaratan-persyaratan yang lainnya,” tegasnya.
Menanggapi aspirasi sebagian warga yang menginginkan proyek dilanjutkan, Koster menegaskan proyek tidak berizin sehingga tetap dihentikan.
“Itu kan aspirasi silakan, dan nggak mungkin dilanjutkan,” katanya.
Koster juga menyampaikan bahwa Bupati Klungkung telah menawarkan konsep alternatif berupa jalur tangga alami menuju Pantai Kelingking.
“Ada konsep yang sangat bagus. Dia memelihara alamnya, tidak merusak alam, melekat di situ. Jalan tradisionalnya ditata dengan tangga berbahan alami, kalau itu jadi bagus,” ujarnya.