Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk aktif menjaga kelestarian alam. Ajakan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon yang diperingati setiap 10 Januari. Inisiatif ini menekankan pentingnya menanam, merawat, serta peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Sabtu. Ia menegaskan bahwa kepedulian lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Misalnya, dengan menanam pohon di berbagai lokasi seperti sekitar rumah dan lereng gunung.
Upaya menanam pohon ini dianggap sebagai kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan hidup. Khofifah meyakini bahwa menjaga alam akan membawa manfaat timbal balik bagi kehidupan manusia. Ini juga menjadi langkah penting untuk mitigasi bencana alam.
Advertisement
Advertisement
Gubernur Khofifah menekankan bahwa menanam pohon merupakan ikhtiar nyata dalam menjaga keseimbangan alam. Ia mencontohkan komitmen pribadinya dengan rutin melakukan penanaman pohon dan mangrove di berbagai wilayah Jawa Timur. Penanaman ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga bentuk kepedulian yang berkelanjutan.
Penanaman mangrove, khususnya, memiliki peran krusial karena kemampuannya menyerap emisi karbon dioksida lima kali lebih banyak. Hal ini menjadikannya pilihan strategis dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim. Khofifah sendiri seringkali mengajak masyarakat untuk menanam mangrove.
Selain itu, penanaman pohon juga berperan penting dalam mitigasi bencana alam, terutama di wilayah yang rawan longsor dan banjir. Pohon membantu memperkuat struktur tanah dan menjaga kualitas daerah aliran sungai. Ini dilakukan melalui penyediaan bibit dan gerakan penanaman yang masif.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Jawa Timur terhadap lingkungan tercermin dari peningkatan luas mangrove yang signifikan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024, luas mangrove di provinsi ini bertambah 3.618 hektare atau 13,29 persen dalam empat tahun terakhir. Peningkatan ini dari 27.221 hektare pada 2021 menjadi 30.839,3 hektare saat ini.
Capaian tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa. Ini menunjukkan efektivitas program pelestarian yang telah dijalankan. Konsistensi dalam menjaga tutupan hutan dan lahan terus membuahkan hasil positif.
Di sektor daratan, tren positif juga terlihat dengan penurunan luas lahan kritis. Dari 432.225 hektare pada tahun 2018, luas lahan kritis berhasil ditekan menjadi 370.544 hektare pada tahun 2024. Angka ini mencerminkan keberhasilan upaya reboisasi dan konservasi.
Advertisement
Advertisement
Misi ekologi melalui penanaman pohon tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang substansial. Khofifah menjelaskan bahwa ini terlihat dari potensi perdagangan karbon dan produk hilirisasi kehutanan. Sektor ini membuka peluang baru bagi kesejahteraan masyarakat.
Nilai Transaksi Ekonomi Kelompok Tani Hutan (NTE-KTH) Jawa Timur pada tahun 2025 mencapai Rp1,63 triliun. Angka ini merupakan 48,15 persen dari total nasional yang sebesar Rp3,40 triliun. Capaian ini menunjukkan kontribusi besar Jatim terhadap ekonomi kehutanan nasional.
Selain itu, Nilai Ekonomi (Nekon) Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat Rp447,22 miliar. Jumlah ini setara dengan 29,36 persen dari capaian nasional Rp1,52 triliun. Menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan nilai KUPS tertinggi di Indonesia.
Advertisement
Gubernur Khofifah juga membagikan kebiasaan pribadinya menanam pohon bersama keluarga sejak tahun 1991. Bahkan, kegiatan ini telah menjadi tradisi setiap peringatan ulang tahun. Ia mengajak masyarakat untuk mengonversi bunga papan menjadi pohon hidup sebagai bentuk "urip gawe urup" atau hidup yang menghidupkan.
Sumber: AntaraNews