Gagahnya Kasal Bak Sutradara Film, TNI AL Angkat Kisah Nyata Pembebasan Sandera ke Layar Lebar

Saat itu, Fera terlihat mengenakan pakaian batik serta jilbab atau kerudung berwarna krem.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Gagahnya Kasal Bak Sutradara Film, TNI AL Angkat Kisah Nyata Pembebasan Sandera ke Layar Lebar
Gagahnya Kasal Bak Sutradara Film, TNI AL Angkat Kisah Nyata Pembebasan Sandera ke Layar Lebar (Merdeka.com)

Berbadan tegap, lengkap dengan menggunakan seragam serta topi yang mencirikan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Kepala Staf Angakatan Laut (Kasal) Laksamana Muhammad Ali meresmikan atau merilis sebuah film yang digarap matranya. Film itu dibuat di KRI Dewaruci, Koarmada II, Surabaya, pada Jumat, 12 September 2025.

Dalam peresmiannya itu, jenderal bintang empat tersebut turut didampingi oleh istrinya yakni Fera Muhammad Ali. Saat itu, Fera terlihat mengenakan pakaian batik serta jilbab atau kerudung berwarna krem.

Ketika itu, Ali dan Fera seperti sutrada dalam meresmikan film yang berjudul The Hostage's Hero. Apalagi, keduanya itu bediri persis di belakang kamera untuk membuat film tersebut.

"Bismillahirrahmannirahhim, pada hari ini Jumat, 12 September 2025 saya nyatakan teksin pertama film The Hostage's Hero dimulai. Kamera roll," ujar Ali dalam meresmikan film tersebut.

"Action," sahut Fera dengan pengeras suara.

Setelah meresmikan film tersebut, Ali pun mencoba berbincang singkat dengan pemain film itu. Selanjutnya, Ali bersama Fera dan Perwira Tinggi (Pati) TNI AL langsung melakukan foto bersama dengan para pemain film.

Sementera itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menjelaskan, film itu dibuat dengan mengangkat sebuah kisah nyata yang pernah terjadi yakni melakukan penyelamatan terhadap 36 orang yang disandera oleh para pembajak laut.

"Dalam kesempatan ini, ingin menyampaikan apa yang sudah barusan kita kerjakan. Kita baru kerjakan pengambilan sin pertama dari film yang berjudul The Hostage's Hero, film ini diangkat berdasarkan dari kisah nyata atau base on true story, pembajakan terhadap ente pematang yang telah menyelamatkan sandera yang dilaksanakan oleh KRI Karel Satsuitubun-356 sejumlah 36 sandera yang terjadi di perairan Selat Malaka," jelas Tunggul.

Dalam kesempatan itu, Tunggul menyebut, pembuatan film itu untuk memberikan gambaran kepada masyarakat akan tugas-tugas yang dilaksanakan TNI AL. Apalagi, para prajurit disebutnya selalu siap dalam menjalankan tugas dan mengamankan wilayah perairan Indonesia.

"Namun disisi lain juga yang ingin kita sampaikan adalah para pengawak prajuritnya yang dibalut dengan seragam, dengan kedisiplinan ini ternyata di dalamnya juga manusia biasa yang memiliki sisi-sisi humanis, memiliki keluarga, memiliki istri, memiliki anak yang harus selalu mereka tinggalkan pada saat melaksanakan tugas," sebutnya.

Kemudian, tujuan lain pembuatan film tersebut karena untuk bisa memberikan edukasi budaya kepada masyarakat yang diharapakan dapat diterima.

"Kemudian tema dari film ini adalah duty, hanner and love. Jika laut memanggil, mereka harus mimilih. Sasaran dari film ini tentu saja selain memberikan edukasi budaya kepada audiens dengan menggunakan sarana film yang bisa diterima secara luas oleh masyarakat Indonesia," paparnya.

"Tujuan yang kedua untuk memberikan motivasi terhadap bela negara bagi masyarakat Indonesia, untuk lebih mencintai negara kita," pungkasnya.

Rekomendasi