Warga Maluku Utara akan disuguhi fenomena alam langka, yakni Gerhana Bulan Total yang diperkirakan terjadi pada Senin, 8 September dini hari. Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan secara langsung di seluruh wilayah kabupaten/kota di provinsi tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Ternate telah mengonfirmasi hal ini.
Menurut petugas Operasional BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Nawir, gerhana bulan total akan dimulai sekitar pukul 00:26 WIT. Pihak BMKG sendiri akan melakukan pemantauan intensif dari halaman kantor mereka untuk mengamati perkembangan fenomena ini. Masyarakat diimbau untuk tidak melewatkan momen istimewa tersebut.
Peristiwa ini terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus yang sempurna. Kondisi ini menyebabkan Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi, menciptakan pemandangan bulan yang berwarna kemerahan. Fenomena Gerhana Bulan Total ini menjadi yang kedua kalinya terjadi pada tahun 2025.
Advertisement
Advertisement
BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate telah merilis rincian waktu fase-fase gerhana bulan total yang akan terjadi di Maluku Utara. Informasi ini sangat penting bagi masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena ini dari awal hingga akhir. Pemantauan yang akurat akan membantu mengabadikan setiap momen penting.
Fase gerhana penumbra akan dimulai pada pukul 00:26 WIT, menandai awal masuknya bulan ke bayangan samar bumi. Kemudian, fase gerhana sebagian akan dimulai pada pukul 01:26 WIT, di mana sebagian bulan mulai tertutup bayangan inti bumi.
Puncak dari fenomena ini, yaitu gerhana total, akan dimulai pada pukul 02:30 WIT. Puncak gerhana sepenuhnya akan terjadi pada pukul 03:11 WIT, menampilkan bulan dengan warna khasnya. Gerhana total akan berakhir pada pukul 03:53 WIT.
Advertisement
Setelah itu, bulan akan kembali memasuki fase gerhana sebagian yang berakhir pada pukul 04:56 WIT, dan fase gerhana penumbra akan berakhir sepenuhnya pada pukul 05:56 WIT. Seluruh rangkaian fase ini memberikan kesempatan luas bagi pengamat.
Advertisement
Gerhana bulan total merupakan salah satu fenomena astronomi yang menarik dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Peristiwa ini terjadi karena konfigurasi khusus antara Matahari, Bumi, dan Bulan. Ketiganya harus berada dalam posisi sejajar sempurna di ruang angkasa agar gerhana bisa terjadi.
Saat konfigurasi ini tercapai, Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Akibatnya, bayangan Bumi jatuh menutupi Bulan. Bulan kemudian masuk ke dalam bayangan inti Bumi, yang dikenal sebagai umbra.
Meskipun Bulan berada di dalam umbra, ia tidak sepenuhnya gelap. Sedikit cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan dibiaskan dan mencapai permukaan Bulan. Cahaya ini sebagian besar adalah spektrum merah, sehingga menyebabkan Bulan tampak berwarna kemerahan atau oranye saat gerhana total. Ini sering disebut sebagai "Blood Moon".
Advertisement
Fenomena ini, seperti yang terjadi pada 14 Maret dan 8 September 2025, adalah peristiwa rutin yang dapat diprediksi oleh para ilmuwan. Keberadaan informasi dari BMKG membantu masyarakat memahami dan mengantisipasi kejadian alam ini dengan lebih baik.
Sumber: AntaraNews