Fenomena kelas pekerja baru yang lahir di tengah revolusi ekonomi digital menjadi sorotan. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, menyebut kelompok ini sebagai “Generasi Rentan”, kelas yang fleksibel tapi rapuh, penuh harapan namun sarat kecemasan.
Menurut Denny, Generasi Rentan mencakup pengemudi ojek online, kurir e-commerce, freelancer, hingga content creator kecil yang hidup di bawah kendali algoritma. Mereka tidak memiliki jaminan kerja, perlindungan sosial, maupun kepastian pendapatan.
"Saya memilih menyebut mereka sebagai Generasi Rentan. Ini bukan sekadar kategori ekonomi, melainkan fenomena lintas usia yang membentuk wajah baru masyarakat kita. Ciri utamanya adalah kerentanan: terhadap ketidakpastian, terhadap krisis ekonomi, terhadap algoritma yang menentukan hidup mereka," kata Denny, Senin (15/9).
Fenomena ini tercermin pada jutaan pekerja digital di Indonesia. Data 2023 mencatat lebih dari 4,5 juta orang menggantungkan hidup pada aplikasi transportasi daring. Para kurir e-commerce bekerja mengejar target pengiriman yang ditentukan mesin, sementara freelancer hingga content creator kecil bersaing di pasar global dengan pendapatan yang sering tak menentu.
Kontradiksi pun lahir yakni kebebasan mengatur waktu diimbangi dengan ketiadaan jaminan sosial. Hidup mereka, ujar Denny, ibarat berjalan di atas tali tipis. Denny menegaskan kerentanan ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga psikologis.
“Apakah hari ini ada order? Apakah besok ada kontrak? Apakah bulan depan masih bisa bayar cicilan? Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui mereka setiap hari,” ujarnya.
Generasi ini, tambahnya, sering merasa terasing, tidak masuk kategori kelas menengah mapan, namun juga bukan kaum miskin tradisional. Rasa kehilangan identitas inilah yang membuat mereka mudah kecewa, mudah marah, dan mudah dimobilisasi.
Mengutip Guy Standing, Denny menyebut kelompok ini berpotensi menjadi “kelas berbahaya.” Bukan karena kriminal, melainkan karena keresahan mereka bisa meledak kapan saja.
"Lihat solidaritas pengemudi ojol ketika salah satu dari mereka meninggal akibat kecelakaan kerja. Dalam hitungan jam, ribuan orang bisa turun ke jalan. Inilah energi sosial Generasi Rentan," jelasnya.
Advertisement
Ledakan protes di Indonesia pada Agustus–September 2025, yang terjadi di 107 titik di 32 provinsi, menurut Denny, adalah bukti nyata keresahan kelas ini.
Denny menilai, dengan lebih dari 80 juta pekerja informal yang semakin terdigitalisasi, negara tak bisa tinggal diam. Ia menawarkan tiga langkah utama: regulasi platform dengan standar upah dan jaminan sosial, literasi digital agar pekerja bisa naik kelas, serta penguatan jaring pengaman sosial.
"Tanpa langkah ini, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya akan jadi mimpi kosong. Bagaimana mungkin bangsa ini bisa maju jika mayoritas pekerjanya hidup dalam kerentanan yang akut?" tegasnya.