Fathan menderita tumor ganas dan kini terbaring lemas di rumah sakit
Merdeka.com - Perutnya buncit terbalut kantong plastik agar isi perutnya tidak terburai keluar. Kondisi kesehatannya pun semakin menurun dan sekarang hanya bisa terkulai lemas di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), Banda Aceh.
Muhammad Fathan (1), bocah yang lahir dari pasangan Khairiati–M Nasir telah divonis dokter menderita tumor ganas. Dia pun sudah menjalani operasi untuk mengangkat tumor. Namun dokter belum berhasil mengangkatnya karena tumor berada di belakang hati.
Karena perutnya semakin membesar, sehingga benang bekas jahitan operasi pertamanya putus, sehingga isi perutnya nyaris semua terburai keluar. Hemoglobin Fathan pun saat ini di bawah batas normal, sekitar lima, membuat dia harus menerima transfusi darah.
Sejak Jumat (16/10), balita berdarah O ini hilang nafsu makan, sehingga dia dipasangkan selang di hidung untuk asupan makanan.
"Sekarang orang rumah sakit juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dokter cuma bilang kasih obat sama transfusi darah saja," kata Khairiati sedih pada Sabtu (17/10) sore.
Kini Fathan hanya bisa berbaring lemas di ruang PICU RSUZA, Banda Aceh. Dia telah dua kali menjalani operasi, namun belum bisa mengangkat tumor ganas itu.
Operasi pertama dijalaninya 10 September 2015. Setelah dioperasi, tim dokter baru diketahui tumor ganas terdapat di belakang hati bocah malang ini dan tidak bisa diangkat.
Setelah operasi dijalani, perut bocah ini tetap saja terus membesar, sehingga jahitan bekas operasi pertama terlepas. Lalu Fathan kembali menjalani operasi 1 Oktober 2015.
"Operasi kedua dilakukan karena jahitan lepas. Kemudian dibilang sama dokter mau dibersihin. habis operasi kedua terbuka lagi jahitannya," tutur Khairiati.
Penderitaan Fathan ternyata tidak hanya harus melawan ganasnya tumor yang menggrogoti tubuhnya. Kisah miris lainnya yang semakin membuat pilu, sejak Fathan 6 bulan dalam kandungan, Khairiati harus bercerai hingga melahirkan tidak ada nafkah yang diberikan oleh Fathan.
Khairani sendiri tidak memiliki pekerjaan tetap. Beban keuangan kian bertambah saat Fathan mulai sakit pada umur sepuluh bulan. Sementara M. Nasir, tidak pernah mengirim uang untuk meringankan biaya hidup Khairiati dan Fathan.
Sejak Fathan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh pada 18 Agustus lalu, belum sekalipun Nasir menjenguk Fathan.
"Saya cuma ditelpon saja sama suami saya tanya kabar Fathan, tapi tidak pernah ke sini," tuturnya kecewa di RSUZA, Sabtu (18/10).
Nenek Fathan, Syamsiah juga pernah mendatangi keluarga Nasir dengan tujuan meminta keluarga tersebut agar bersama-sama menanggung biaya pengobatan Fathan selama di rumah sakit. Namun, keluarga Nasir hanya memberi respons negatif.
"Dia (Nasir) tidak bertanggung jawab," kata Khairiati.
Khairiati tinggal di Desa Keude Jungka Gajah, Meurah Mulia, Geudong, Aceh Utara. Kondisinya saat ini sangat membutuhkan uluran tangan dari masyarakat maupun pemerintah. Dia butuh dana untuk biaya hidup selama di Banda Aceh, dan untuk membayar pengobatan Fathan, anaknya.
Khairiati mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah maupun dinas terkait. Dia baru menerima sumbangan dari sanak saudaranya yang berkunjung beberapa waktu lalu, serta dari Children Cancer Care Comunity.
Khairiati berharap, anaknya yang sedang dirawat di ruang PICU RSUZA agar segera sembuh. Dia juga mengharapkan bantuan sosial dari pemerintah maupun masyarakat untuk meringankan bebannya.
Sementara itu, Ketua Children Cancer Care Comunity Ratna berharap, agar pihak rumah sakit memberi tindakan yang cepat dalam menangani anak kanker.
Selama ini, berdasar pantauannya, rumah sakit daerah lamban memberi tindakan atau rujukan kepada pasien, sehingga pasien telat ditangani.
"Jangan sudah tahu tumor atau kanker, kasih surat rujukan juga lama. Kalau sudah parah, kan tidak banyak lagi tindakan yang bisa diperbuat," tutur Ratna.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya