Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara resmi menyatakan dukungannya terhadap proyek film animasi "Malahayati". Film ini mengangkat kisah Laksamana Keumalahayati, seorang pahlawan perempuan asal Aceh yang dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia. Dukungan ini bertujuan agar karya tersebut dapat mendunia serta menjadi aset kekayaan intelektual yang bernilai ekonomi tinggi bagi Indonesia.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan komitmennya dalam sebuah pernyataan di Jakarta baru-baru ini. Kolaborasi dengan Kedutaan Besar Turki dan studio animasi BASE (Brown Bag Films) diharapkan dapat memperluas eksposur film. Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang investasi global yang signifikan untuk industri kreatif nasional.
Proyek "Malahayati" tidak hanya berfokus pada upaya menghidupkan kembali sejarah dan nilai-nilai kepahlawanan. Lebih dari itu, film ini juga menjadi bagian dari strategi Kemenparekraf untuk mengkomersialkan kekayaan budaya Indonesia melalui program Sinergi Ekraf. Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di tanah air.
Advertisement
Advertisement
Potensi Kekayaan Intelektual Berbasis Budaya
Menteri Ekraf Teuku Riefky menyoroti pentingnya peran Kementerian dalam memfasilitasi komersialisasi kekayaan intelektual (KI) yang berakar pada budaya lokal. Menurutnya, kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Indonesia memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi baru, yang sebagian besar berasal dari daerah-daerah di seluruh nusantara.
Riefky menjelaskan bahwa setiap daerah di Indonesia menyimpan kisah sejarah dan pahlawan yang luar biasa, termasuk Aceh dengan beragam legenda dan tokoh perjuangannya. Ia mengutip, "Setiap daerah di Indonesia menyimpan kisah sejarah dan pahlawan yang luar biasa, termasuk Aceh dengan beragam legenda dan tokoh perjuangannya. Peran kami adalah memfasilitasi agar kekayaan cerita ini dapat dikembangkan dan dikomersialkan melalui karya kreatif seperti film, komik, atau gim."
Ia juga mengapresiasi film animasi "Malahayati" yang dinilai mampu membuktikan bahwa kekuatan penceritaan yang kuat, disertai bentuk kreatif tentang sosok berpengaruh dari Indonesia, dapat menjadi kekayaan intelektual bernilai ekonomi tinggi. Hal ini menunjukkan potensi besar dalam mengangkat narasi lokal ke kancah global.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Internasional dan Profil Studio Animasi
Proyek film animasi "Malahayati" merupakan hasil kolaborasi antara Brown Bag Films, yang sebelumnya dikenal sebagai BASE (Bali Animasi Solusi Ekakarsa), dengan Temotion (PT Tempo Kreasi Animasi). Film ini juga melibatkan dukungan dari Kedutaan Besar Turki, memperkuat dimensi internasional dalam pengembangannya.
Studio BASE, yang didirikan pada tahun 2015 dan resmi rebranding menjadi Brown Bag Films pada tahun 2019, kini telah menjadi bagian dari Scholastic Inc., sebuah perusahaan penerbitan terkemuka asal Amerika Serikat sejak tahun 2024. Studio ini memiliki sekitar 320 profesional, di mana 99 persen di antaranya adalah talenta lokal yang berbasis di Bali, menunjukkan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia dalam negeri.
Sosok Malahayati dalam film ini diharapkan mampu menggambarkan simbol kepemimpinan, keberanian, dan pemberdayaan perempuan Indonesia. Selain itu, proyek ini akan menghadirkan elemen budaya Indonesia seperti pencak silat dan tari saman, serta berpotensi memperkuat hubungan sejarah antara Turki dan Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Visi Jangka Panjang dan Dukungan Pemerintah Daerah
Executive and Business Strategy Manager Brown Bag Films, Sigit Eko Prabowo, menjelaskan bahwa timnya tengah menjalankan proyek ambisius bertajuk Integrated Indonesian Animation. Ini adalah inisiatif jangka panjang yang bertujuan untuk memproduksi sepuluh film layar lebar dalam sepuluh tahun ke depan, dengan setiap film mengangkat karakter dan cerita dari berbagai daerah di Indonesia.
Tema-tema yang diangkat dalam film-film tersebut akan berakar pada budaya, pelestarian alam, teknologi hijau, dan nilai-nilai heroik. Sigit menambahkan, "Melalui proyek ini, kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia lewat sepuluh film yang masing-masing merepresentasikan karakter dan kisah dari berbagai provinsi. Misalnya, Malahayati dari Aceh yang mengangkat semangat kepahlawanan, lalu dari Bali ada karakter ‘Wayan’ yang menggambarkan keseimbangan alam dan kearifan lokal."
Staf Ahli Gubernur Aceh, Almuniza Kamal, turut menyampaikan dukungannya yang kuat terhadap pengembangan film animasi "Malahayati". Ia menilai film ini mampu mengangkat kembali semangat kepahlawanan dan memperkenalkan sejarah Aceh ke khalayak luas. Pemerintah Aceh berkomitmen untuk berkolaborasi dalam kegiatan promosi dan peluncuran film tersebut, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama dengan mitra internasional, sebagaimana diungkapkan Almuniza, "Kami sangat mendukung pengembangan film animasi 'Malahayati' karena membawa nama dan semangat Aceh ke tingkat nasional maupun global."
Advertisement
Sumber: AntaraNews