Komisi Informasi (KI) Provinsi DKI Jakarta baru-baru ini menegaskan urgensi strategi komunikasi yang adaptif. Langkah ini diambil untuk memperkuat peran lembaga dalam mendorong keterbukaan informasi publik secara lebih efektif dan merata di seluruh lapisan masyarakat.
Wakil Ketua KI DKI Jakarta, Luqman Hakim Arifin, menjelaskan bahwa strategi tersebut diharapkan dapat membawa KI Jakarta lebih dekat dengan warga. Jangkauan ini mencakup hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dan berbagai komunitas lokal di Ibu Kota.
Pernyataan ini disampaikan Luqman dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Strategi Komunikasi Keterbukaan Informasi Publik yang diselenggarakan di Jakarta. Acara ini menjadi momentum penting untuk merumuskan pendekatan komunikasi yang lebih inovatif dan relevan.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Strategi Komunikasi Adaptif untuk Keterbukaan Informasi
Menurut Luqman Hakim Arifin, pertumbuhan sebuah lembaga tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan memerlukan perencanaan yang matang. Ia menegaskan, "Baik manusia maupun lembaga tidak bisa tiba-tiba bertumbuh, semuanya harus direncanakan. KI perlu strategi komunikasi yang kuat dan adaptif agar tumbuh, stabil, dan benar-benar dirasakan masyarakat."
Luqman juga menambahkan bahwa komunikasi publik tidak boleh hanya berhenti di tataran badan publik dan elit birokrasi. Sebaliknya, pesan-pesan keterbukaan informasi harus mampu menyentuh langsung warga Jakarta di berbagai tingkatan sosial.
KI DKI Jakarta merasa bersyukur atas pencapaiannya dalam menjangkau masyarakat akar rumput. "Yang kita syukuri tahun ini adalah bagaimana KI Jakarta bisa hadir sampai ke RT, RW, PKK, bahkan komunitas akar rumput. Itulah makna keterbukaan informasi yang sesungguhnya," ujar Luqman, menyoroti keberhasilan ini sebagai indikator nyata dari komitmen lembaga.
Advertisement
Advertisement
Membangun Citra Positif dan Kesadaran Publik
Senior Consultant Komunikasi Publik, Tria Nurcahayati, turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya strategi komunikasi. Menurutnya, strategi yang terarah dan adaptif akan sangat membantu KI DKI Jakarta dalam membangun citra positif sebagai lembaga strategis yang berperan vital dalam keterbukaan informasi publik.
Tria menekankan bahwa strategi komunikasi ke depan harus memiliki hasil yang jelas. "Ke depan, KI perlu strategi komunikasi dengan output yang jelas: meningkatkan kesadaran publik, memetakan kebutuhan, dan menjawab kendala publik. Hal itu bisa dicapai melalui sinergi, kolaborasi, dan konsistensi," tutur Tria, yang telah konsisten di bidang keterbukaan informasi publik sejak tahun 2013.
Lebih lanjut, Tria juga menyoroti konsep "hukum kesengajaan" dalam pengembangan lembaga. Ia menjelaskan, "Bahwa pertumbuhan suatu lembaga harus direncanakan, bukan sekadar kebetulan, khususnya di ranah persepsi publik." Hal ini menggarisbawahi perlunya perencanaan strategis untuk membentuk persepsi positif di mata masyarakat.
Advertisement
FGD ini diharapkan menjadi titik awal bagi KI DKI Jakarta untuk memperluas jangkauan komunikasi dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak. Tujuannya adalah "menghadirkan layanan informasi publik yang transparan, akuntabel, dan mudah diakses masyarakat," pungkas Tria, menegaskan komitmen KI DKI Jakarta terhadap pelayanan publik yang prima.
Sumber: AntaraNews