Fakta Unik: Gempa Bumi Sumenep Magnitudo 6,5 Disusul Empat Kali Gempa Susulan, BMKG Ungkap Penyebabnya

BMKG mencatat Gempa Bumi Sumenep magnitudo 6,5 pada Selasa malam disusul empat kali gempa susulan. Apa penyebab gempa dangkal ini dan bagaimana dampaknya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Gempa Bumi Sumenep Magnitudo 6,5 Disusul Empat Kali Gempa Susulan, BMKG Ungkap Penyebabnya
BMKG mencatat Gempa Bumi Sumenep magnitudo 6,5 pada Selasa malam disusul empat kali gempa susulan. Apa penyebab gempa dangkal ini dan bagaimana dampaknya? (Merdeka.com)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terjadinya empat kali gempa susulan pasca gempa bumi magnitudo 6,5 yang mengguncang wilayah Sumenep, Jawa Timur. Gempa utama terjadi pada Selasa, 30 September pukul 23.49 WIB, diikuti oleh serangkaian gempa susulan hingga Rabu dini hari.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa susulan ini berlangsung hingga pukul 00.29 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 4,4. Pusat gempa utama terletak di koordinat 7.25 lintang selatan dan 114.22 bujur timur, tepatnya di laut 50 kilometer tenggara Sumenep dan Pulau Sapudi.

Fenomena Gempa Bumi Sumenep ini dikategorikan sebagai gempa tektonik dangkal, yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di bawah laut. Meskipun dirasakan di berbagai daerah, BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, memberikan ketenangan bagi masyarakat.

Kronologi dan Karakteristik Gempa Bumi Sumenep

Gempa bumi dengan magnitudo 6,5 mengguncang Sumenep, Jawa Timur, pada Selasa malam, 30 September, pukul 23.49 WIB. Peristiwa ini kemudian diikuti oleh empat kali gempa susulan yang tercatat oleh BMKG hingga Rabu dini hari.

Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menyatakan, "Gempa susulan sebanyak empat kali ini, terjadi hingga pukul 00.29 WIB, Rabu pagi, dari kejadian awal pada pukul 23.49 WIB pada Selasa (30/9) malam, dengan magnitudo terbesar 4,4." Penjelasan ini menggarisbawahi intensitas aktivitas seismik di wilayah tersebut.

Episenter Gempa Bumi Sumenep berada di laut, sekitar 50 kilometer tenggara Sumenep dan Pulau Sapudi, dengan kedalaman 11 kilometer. Lokasi ini menunjukkan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal, yang seringkali memiliki dampak signifikan di permukaan.

BMKG mengidentifikasi jenis gempa ini sebagai gempa tektonik. Gempa ini disebabkan oleh adanya aktivitas sesar aktif yang berada di bawah laut, sebuah kondisi geologis yang umum di wilayah kepulauan Indonesia.

Dampak dan Sebaran Getaran Gempa

Dampak Gempa Bumi Sumenep dirasakan secara bervariasi di berbagai wilayah. Daerah Pulau Sapudi mengalami intensitas V-VI MMI, di mana getaran dirasakan oleh semua orang dan menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan.

Sementara itu, daerah Sumenep, Pamekasan, dan Surabaya merasakan getaran dengan skala intensitas III-IV MMI, yang berarti getaran terasa nyata di dalam rumah. Daryono menambahkan, "Getaran dirasakan nyata dalam rumah," menggambarkan pengalaman warga di area tersebut.

Getaran gempa juga meluas hingga ke luar Jawa Timur. Tuban, Denpasar, dan Gianyar merasakan intensitas III MMI, sedangkan Tabanan, Buleleng, Kuta, dan Banyuwangi melaporkan intensitas II-III MMI. Bahkan, Lombok Utara, Kota Mataram, Lombok Tengah, Malang, dan Blitar turut merasakan getaran dengan skala II MMI.

Meskipun sebaran getaran cukup luas, BMKG menegaskan bahwa "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami." Pernyataan ini penting untuk menenangkan kekhawatiran masyarakat akan potensi bencana lanjutan.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat Terdampak

Menyikapi Gempa Bumi Sumenep dan rentetan gempa susulan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi yang akurat sangat krusial dalam situasi darurat seperti ini.

Warga yang berada di daerah terdampak juga diminta untuk menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan gempa. Tindakan pencegahan ini bertujuan untuk meminimalkan risiko cedera atau korban jiwa akibat potensi runtuhnya struktur bangunan.

BMKG menekankan pentingnya memperoleh informasi dari sumber resmi. "Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," tegas Daryono. Hal ini untuk menghindari penyebaran hoaks dan kepanikan di tengah masyarakat.

Kesiapsiagaan dan kewaspadaan tetap menjadi kunci bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa. Memahami karakteristik gempa dan mengikuti panduan dari otoritas berwenang adalah langkah penting dalam mitigasi bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi