Fakta Mengejutkan! Pakar Neurosains Ungkap Mahasiswa Jadi Kelompok Paling Tertekan, Bagaimana Jaga Kesehatan Mental Mahasiswa?

Pakar neurosains UIN Sunan Kalijaga menyebut mahasiswa alami tekanan mental tertinggi akibat tuntutan akademik, sosial, dan keluarga. Ketahui cara menjaga kesehatan mental mahasiswa dan hindari self-diagnosis.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Mengejutkan! Pakar Neurosains Ungkap Mahasiswa Jadi Kelompok Paling Tertekan, Bagaimana Jaga Kesehatan Mental Mahasiswa?
Pakar neurosains UIN Sunan Kalijaga menyebut mahasiswa alami tekanan mental tertinggi akibat tuntutan akademik, sosial, dan keluarga. Ketahui cara menjaga kesehatan mental mahasiswa dan hindari self-diagnosis. (AntaraNews)

Pakar neurosains dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabiqotul Husna, baru-baru ini menyoroti isu krusial. Ia menyatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok dengan tingkat tekanan mental tertinggi di tengah masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi bertajuk "Speak Up for Mental Health: Mengenali Tanda, Menghapus Stigma" yang digelar di Yogyakarta. Husna menjelaskan bahwa tuntutan akademik, lingkungan sosial, dan ekspektasi keluarga menjadi pemicu utama.

Kondisi ini diperparah dengan kurangnya perhatian terhadap keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental para mahasiswa. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental mahasiswa menjadi sangat penting untuk kesejahteraan mereka.

Tuntutan Akademik dan Sosial: Pemicu Utama Tekanan Mental Mahasiswa

Sabiqotul Husna menggarisbawahi bahwa mahasiswa menghadapi tekanan berlipat ganda dari berbagai arah. Tuntutan akademik yang berat seringkali menjadi beban utama yang harus mereka pikul setiap hari. Lingkungan pertemanan dan ekspektasi keluarga juga turut menambah daftar panjang tantangan ini.

Ia menekankan bahwa kesehatan mental dan fisik memiliki hubungan resiprokal yang tidak terpisahkan. Jika seseorang mengalami kondisi mental yang buruk dalam durasi panjang, kesehatan fisiknya pun dapat terdampak. Ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan kedua aspek tersebut.

Produktivitas yang keliru juga seringkali menjadi jebakan bagi mahasiswa. Banyak yang mengira produktivitas berarti bekerja tanpa henti atau mengabaikan waktu istirahat. Padahal, produktivitas sejati adalah keseimbangan antara hasil yang dicapai dan kesejahteraan diri.

Dampak Tekanan Mental pada Kesehatan Fisik Menurut Neurosains

Dari perspektif neurosains, kondisi mental yang tidak stabil dapat memicu gangguan kesehatan fisik yang serius. Sabiqotul Husna menjelaskan bahwa stres atau kecemasan berkepanjangan dapat mengaktifkan kelenjar dalam tubuh. Hal ini memicu produksi hormon stres secara terus-menerus.

Jika tubuh tidak mendapatkan kesempatan untuk mengelola emosi negatif ini, inflamasi dapat terjadi. Kondisi ini bahkan berpotensi memicu penyakit autoimun. Oleh karena itu, penting untuk segera mengenali tanda-tanda awal tekanan mental.

Ada empat tanda utama yang mengindikasikan memburuknya kesehatan mental seseorang. Tanda-tanda tersebut meliputi dominasi emosi negatif, penurunan kemampuan kognitif, berkurangnya minat merawat diri, serta kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial.

Melawan Stigma dan Pentingnya Bantuan Profesional untuk Kesehatan Mental Mahasiswa

Isolasi diri merupakan "silent killer" bagi kesehatan mental, menurut Sabiqotul Husna. Ketika seseorang sendirian dalam kondisi mental yang tidak baik, hormon stres akan terus diproduksi. Kehadiran orang lain dan koneksi sosial yang positif sangat esensial untuk pemulihan.

Husna juga membedakan tegas antara "self-care" dan "self-diagnosis" yang marak di kalangan muda. Perasaan sedih atau semangat turun adalah hal manusiawi, namun melabeli diri dengan diagnosis tertentu adalah ranah ahli. "Perasaan sedih, semangatnya turun, itu manusiawi. Tapi untuk melabeli diri dengan istilah tertentu atau diagnosis, itu seharusnya ranah ahli," ujarnya.

Fenomena romantisasi penyakit mental di media sosial juga menjadi perhatian. Hal ini dapat membuat kondisi serius tersebut terkesan indah atau istimewa. Sabiqotul mengimbau agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum mencari bantuan profesional.

"Jangan tunggu sampai parah," tegasnya. Ketika muncul tanda-tanda seperti emosi tidak stabil, kognisi menurun, atau menarik diri dari sosial, segera temui psikolog atau psikiater. Ini adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi