Fakta Mengejutkan: 3,2% Anak Makassar Stunting, Bunda PAUD Tekankan Pentingnya Gizi Seimbang Sejak Dini

Bunda PAUD Makassar Melinda Aksa menyerukan pentingnya Gizi Seimbang untuk cegah stunting pada anak. Bagaimana peran orang tua dan bahaya makanan cepat saji dalam isu krusial ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Mengejutkan: 3,2% Anak Makassar Stunting, Bunda PAUD Tekankan Pentingnya Gizi Seimbang Sejak Dini
Bunda PAUD Makassar Melinda Aksa menyerukan pentingnya Gizi Seimbang untuk cegah stunting pada anak. Bagaimana peran orang tua dan bahaya makanan cepat saji dalam isu krusial ini? (AntaraNews)

Bunda PAUD Kota Makassar, Melinda Aksa, baru-baru ini menekankan urgensi pemenuhan gizi seimbang bagi anak usia dini. Hal ini merupakan langkah krusial dalam upaya mencegah stunting serta membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Pelatihan Pemenuhan Gizi Anak yang diadakan oleh Pokja Bunda PAUD Kota Makassar pada Jumat lalu.

Melinda Aksa menyoroti bahwa usia 0-5 tahun adalah masa emas pertumbuhan anak, di mana seluruh potensi fisik, kognitif, dan emosional berkembang pesat. Oleh karena itu, periode ini tidak boleh terlewatkan dalam menanamkan kebiasaan makan bergizi dan pola hidup sehat. Kegiatan ini mengusung tema “Gizi Seimbang, Anak Sehat dan Cerdas Menuju Makassar Emas”.

Menurut data, Kota Makassar masih menghadapi tantangan dengan sekitar 3,2 persen anak yang tergolong stunting. Isu stunting ini menjadi perhatian serius yang harus diselesaikan bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Kondisi ini mendasari pentingnya edukasi dan aksi nyata dalam meningkatkan kualitas gizi anak di kota tersebut.

Melinda Aksa menegaskan bahwa usia dini merupakan masa krusial bagi tumbuh kembang anak. Pada periode 0-5 tahun, seluruh potensi fisik, kognitif, dan emosional anak berkembang dengan sangat pesat. Oleh karena itu, penanaman kebiasaan makan yang sehat dan pola hidup bergizi seimbang harus menjadi prioritas utama.

Namun, tantangan terbesar saat ini adalah kemudahan akses terhadap makanan olahan cepat saji atau ultra-processed food yang semakin banyak dijual dengan harga terjangkau. Melinda Aksa mengingatkan agar orang tua tidak mengonsumsi makanan cepat saji di depan anak, karena anak cenderung meniru kebiasaan tersebut. Ia secara spesifik menyatakan, “Anak-anak kita bahkan sudah bisa memesan sendiri lewat aplikasi. Karena itu, jangan makan makanan cepat saji di depan anak, karena mereka akan meniru.”

Pola konsumsi dalam keluarga memiliki peran besar terhadap pembentukan kebiasaan makan anak. Melinda mencontohkan kebiasaannya di rumah yang selalu menghindari makanan instan demi menjaga asupan gizi. Ia juga menyoroti bahaya konsumsi gula berlebih, yang dapat memicu kasus diabetes pada usia muda akibat pola makan tidak sehat.

Melinda Aksa menegaskan komitmennya untuk terus mendorong sinergi antara lembaga PAUD, Dinas Kesehatan, dan masyarakat. Tujuannya adalah memastikan setiap anak di Makassar memperoleh haknya atas gizi yang layak dan pendidikan berkualitas. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat upaya pencegahan stunting di seluruh wilayah.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Melinda Aksa secara simbolis menyerahkan paket alat makan dan kebersihan. Bantuan ini diberikan kepada anak-anak dan Taman Kanak-Kanak di setiap kecamatan Kota Makassar. Inisiatif ini menunjukkan perhatian serius terhadap kebersihan dan asupan gizi anak.

Kegiatan pelatihan ini juga menghadirkan dua narasumber ahli yang kompeten di bidangnya. Astati Made Amin selaku Wakil Ketua DPD Persagi Sulsel menjelaskan kebutuhan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Ia menekankan, “Memberikan gizi optimal sejak 1.000 hari pertama kehidupan sangat menentukan pertumbuhan otak dan tubuh anak, sehingga pola makan dan ASI eksklusif harus menjadi prioritas.”

Narasumber kedua, dr. Lingga Pradipta, menyampaikan materi tentang membangun generasi sehat dan pencegahan stunting sejak dini. Ia menggarisbawahi bahwa pencegahan stunting dimulai dari pendidikan gizi di rumah dan sekolah. Kolaborasi erat antara orang tua, guru, dan tenaga kesehatan sangat krusial dalam mewujudkan hal ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi