Keindahan perairan Labuan Bajo menyimpan tantangan alam yang signifikan bagi para pelayar dan wisatawan. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi serangkaian kecelakaan kapal yang disebabkan oleh kombinasi cuaca buruk, anomali gelombang, serta masalah teknis pada mesin.
Insiden terbaru pada akhir tahun 2025 bahkan mengakibatkan korban jiwa di kalangan wisatawan asing, yang kemudian memicu penutupan sementara akses ke destinasi utama.
1. Tragedi KM Putri Sakinah: Pelatih Valencia CF dan 3 Anaknya Hilang
Kecelakaan kapal terbaru terjadi pada hari Jumat, 26 Desember 2025, melibatkan KM Putri Sakinah yang mengangkut 11 penumpang. Kapal semi-phinisi tersebut mengalami kerusakan mesin di Selat Padar saat dalam perjalanan menuju Pulau Komodo pada malam hari. Kondisi semakin diperburuk oleh gelombang swell setinggi 2 hingga 3 meter yang muncul secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Empat orang yang tenggelam dan hilang dalam kecelakaan ini semuanya berkewarganegaraan Spanyol. Kemudian diketahui bahwa keempat orang tersebut adalah Fernando Martin, pelatih tim wanita klub sepak bola Valencia CF, bersama ketiga anaknya.
Menurut laporan dari News Liputan6.com pada Minggu, 28 Desember 2025, pihak klub mengeluarkan pernyataan resmi melalui media sosial mengenai musibah tragis yang menimpa staf mereka di Indonesia. Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, menyatakan bahwa gelombang tinggi yang datang secara mendadak menjadi faktor utama penyebab kecelakaan tersebut.
Advertisement
Phinisi Anging Mammiri
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada 29 Juni 2025, terjadi insiden kapal wisata Pinisi Anging Mammiri yang terbalik di perairan antara Pulau Mawan dan Tanjung Lokima. Kapal tersebut mengangkut delapan warga negara asing, terdiri dari empat turis asal Spanyol dan empat turis asal China. Menurut laporan dari Regional Liputan6.com pada 30 Juni 2025, kapal itu mengalami hantaman gelombang tinggi saat berlayar dari Labuan Bajo menuju Pulau Komodo.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menyatakan bahwa evakuasi para penumpang berhasil dilakukan berkat bantuan Kapal Wisata Aurelia yang kebetulan berada dekat lokasi kejadian. Tim SAR gabungan kemudian menjemput para korban dan membawanya ke Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Fathur mengonfirmasi bahwa semua turis asing ditemukan dalam kondisi fisik yang sehat. "Kedelapan turis asing itu sehat dan selamat, hanya saja masih merasa syok akibat insiden tersebut," jelasnya. Sementara itu, para kru kapal memilih untuk tetap berada di lokasi guna melakukan perbaikan pada kapal yang terbalik.
Advertisement
Karamnya Kapal KM Lalongkoe
Pada bulan Mei 2023, sebuah insiden terjadi ketika KM Lalongkoe yang mengangkut 12 orang dilaporkan tenggelam di perairan Batu Tiga, Kecamatan Boleng. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan pulang dari Pulau Komodo menuju Dermaga ASDP Labuan Bajo ketika cuaca tiba-tiba memburuk.
Tim SAR segera melakukan tindakan setelah menerima laporan pada sore hari untuk melaksanakan operasi penyelamatan. Menurut berita yang dilansir oleh Antara pada 20 Mei 2023, kapal tersebut tenggelam akibat diterpa angin kencang dan gelombang tinggi. Di atas kapal terdapat lima wisatawan domestik dan tiga wisatawan asing.
Lokasi kejadian yang berada sekitar 18,8 nautical mile dari pelabuhan menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR, yang harus bergerak cepat. Proses evakuasi akhirnya selesai pada malam hari sekitar pukul 22.42 WITA, dengan seluruh penumpang dan kru berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, meskipun beberapa mengalami cedera ringan.
Keberhasilan penyelamatan ini tidak lepas dari koordinasi yang baik antara kepolisian, TNI, dan Basarnas. Kerja sama yang solid di antara berbagai instansi tersebut menjadi kunci dalam menangani insiden yang cukup mengkhawatirkan ini.
Advertisement
Insiden Sekoci KM Kaia
Kecelakaan tidak hanya menimpa kapal besar, tetapi juga alat transportasi kecil seperti sekoci. Pada bulan Juli 2023, seorang wisatawan lokal dilaporkan meninggal dunia setelah sekoci milik KM Kaia terbalik di perairan Pulau Muawang. Korban yang bernama Alex Susanto Salim (43) adalah salah satu dari 18 wisatawan yang berniat untuk menyelam. Berdasarkan laporan dari Lifestyle Liputan6.com pada tanggal 18 Juli 2023, sekoci tersebut terbalik akibat hantaman gelombang di tengah angin kencang. Tim SAR yang segera tiba di lokasi langsung mengevakuasi korban ke Pelabuhan Syahbandar dalam keadaan tidak sadar.
Sayangnya, setelah tiba di Rumah Sakit Siloam, pihak medis mengonfirmasi bahwa korban telah meninggal dunia. Kepala Basarnas Maumere, Supriyanto Ridwan, menjelaskan bahwa tim gabungan bergerak cepat setelah menerima informasi mengenai insiden tersebut. Kondisi cuaca di lokasi kejadian memang sangat berisiko bagi kapal-kapal kecil. Insiden ini kembali mengingatkan semua operator wisata untuk lebih meningkatkan standar keselamatan pada setiap peralatan pendukung yang mereka gunakan.
Advertisement
Kecelakaan KLM Tiana Liveaboard
Tragedi besar lainnya terjadi pada 28 Juni 2022 ketika KLM Tiana Liveaboard tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo. Insiden tersebut berlangsung sekitar pukul 05.00 WITA, saat mayoritas penumpang kemungkinan masih dalam keadaan tidur. Akibat dari kejadian ini, dua wisatawan domestik dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Berdasarkan laporan dari Regional Liputan6.com pada 28 Juni 2022, kedua korban yang meninggal ditemukan di tempat yang berbeda, salah satunya terjebak di dalam kabin kapal. Kapal yang membawa 15 orang tersebut diduga terbalik akibat terjangan angin kencang yang datang secara tiba-tiba. Selain itu, satu penumpang lainnya mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke RS Siloam untuk mendapatkan perawatan medis.
Kepala POS SAR Labuan Bajo, Edi, mengonfirmasi identitas korban yang meninggal dunia yang tercantum dalam manifes. "Korban kapal wisata tenggelam ada tiga, dua meninggal dan seorang luka berat," ungkapnya di Dermaga Nusantara. Peristiwa tragis ini memicu desakan dari masyarakat mengenai kelayakan kapal-kapal wisata yang beroperasi di wilayah Manggarai Barat. Kejadian ini menunjukkan perlunya evaluasi dan peningkatan keselamatan bagi kapal-kapal yang melayani wisatawan di area tersebut, agar tidak terulang lagi di masa mendatang.
Advertisement
Kebakaran KM Lexxy
Berbeda dengan insiden lain yang disebabkan oleh faktor alam, KM Lexxy mengalami kebakaran di Perairan Manjarite pada 11 September 2021. Diduga, api muncul akibat korsleting pada mesin genset saat kapal tersebut mengangkut 21 wisatawan. Untungnya, kru kapal dengan sigap melaksanakan prosedur darurat yang ada sehingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Menurut laporan dari Lifestyle Liputan6.com pada tanggal yang sama, pemilik Anjani Trip, yang merupakan pengelola kapal, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Kapten dan kru segera mengevakuasi 21 penumpang menggunakan sekoci menuju kapal lain yang berada di dekat lokasi kejadian. Sementara itu, tim SAR gabungan juga tiba untuk memastikan api tidak menyebar lebih jauh ke seluruh bagian kapal.
Manajemen KM Lexxy memberikan apresiasi kepada petugas dari Syahbandar, Basarnas, dan kepolisian yang cepat tanggap dalam menangani situasi ini. "Kami juga sangat berterima kasih atas bantuan dari petugas yang sigap membantu kami sehingga tak ada korban jiwa," ungkap Rachmat Julio, pemilik kapal. Akhirnya, kapal tersebut berhasil ditarik kembali ke Pelabuhan Labuan Bajo pada malam harinya.