Ekspor Serabut Kelapa ke China Meningkat, 70 Persen Diambil dari Banyuwangi
Merdeka.com - Produsen serat dan bubuk sabut kelapa, PT Sumber Makmur Mulya, menyerap hingga 70 persen bahan baku dari Kabupaten Banyuwangi.
Serat kelapa (Cocofibre) kemudian diekspor ke China untuk menjadi bahan baku jok mobil dan matras, sementara bubuk sabut kelapa (cocopeat) dieksplor ke Korea untuk pupuk kompos dalam media tanam.
Manager PT Sumber Makmur Mulya, Abdul Haris menjelaskan, produksi dan ekspor serabut serta serbuk kelapa sudah dilakukan sejak tahun 2016 dengan total 20 kontainer per bulannya. Saat ini di tahun 2019 pihaknya sudah bisa memproduksi hingga 40 kontainer per bulan. Masing masing kontainer memiliki berat rata rata 16,5 ton.
"Bahannya 70 persen ambilnya dari Banyuwangi, dari pengepul kelapa, kita beli sabutnya. Kalau dulu mereka kesulitan jualnya kemana, ada yang bisa menerima untuk pembuatan kerajinan seperti keset, tapi jumlahnya terbatas, sekarang kita serap," kata Haris saat seremoni pelepasan ekspor cocofiber di Banyuwangi, Kamis (5/9).
©2019 Merdeka.com
Selain Banyuwagi, bahan sabut kelapa juga diambil dari Bali. Bahan sabut kelapa sebelum diekspor terlebih dahulu dilakukan proses penggilingan untuk memisahkan serat dan serbuknya. Tiap 10 kilogram sabut kelapa menghasilkan 1 kilogram serat sabut kelapa.
"Cocopeatnya (serbuk) perbandingan 40-60 persen, lebih banyak serbuknya," katanya.
Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi menjelaskan dari data tahun 2018 periode Januari - Agustus ekspor serabut kelapa dan Cocopeat (serabut kelapa olahan) mencapai 6.772 ton senilai Rp 19 miliar dan pada periode yang sama di tahun 2019 mencapai 11.333 ton senilai Rp 33 miliar.
"Ini menunjukkan kenaikan jumlah dan nilai ekonomi yang signifikan yaitu lebih dari 50 persen. Dengan kata lain, komoditas yang dulunya sering dianggap limbah ternyata saat ini mampu menyumbangkan devisa bagi negara," katanya.
©2019 Merdeka.com
Kepala Bidang Holtikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Khoiri menambahkan, produktivitas kelapa di Banyuwangi terus mengalami peningkatan hingga sebanyak 2 persen.
"Tiap tahun produksi kelapa meningkat rata rata 2 persen, meski juga banyak yang ditebang, tapi petani juga sudah nanam tanaman penggantinya," katanya.
Data terakhir dinas pertanian, pada tahun 2018 produksi kelapa di Banyuwangi mencapai 31.130 ton kopra kering dengan luas panen 22.236 hektar.
(mdk/paw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya