Dugaan Takut Sanksi dan Uang Tambahan di Balik Komandan TNI Bohongi Jenderal Andika

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa marah besar. Dia merasa dibohongi oleh Komandan Kompi (Danki) atas peristiwa penyerangan Kdi Pos Koramil Gome Satgas Kodim YR 408/Sbh, Papua, pada Januari 2022.

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
Dugaan Takut Sanksi dan Uang Tambahan di Balik Komandan TNI Bohongi Jenderal Andika
Panglima TNI Dilapori Letkol Ada Tembakan di Papua Saat Rapat. YouTube Jenderal TNI Andika Perkasa ©2022 Merdeka.com

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa marah besar. Dia merasa dibohongi oleh Komandan Kompi (Danki) atas peristiwa penyerangan Kdi Pos Koramil Gome Satgas Kodim YR 408/Sbh, Papua, pada Januari 2022.

Akibat kejadian itu, 3 prajurit di Distrik Gome, Puncak, Papua tewas. Dalam peristiwa itu, Kelompok Separatis Teroris Papua (KSTP) menyerang prajurit TNI saat pergantian jaga secara tiba-tiba.

Pengamat militer dari Peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) Beni Sukadismenilai, kekecewaan yang diungkapkan Jendral Andika hal wajar. Karena tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan prajurit TNI.

"Soal kasus komandan kompi yang melakukan kebohongan, tentu patut disesalkan, karena tidak jujur dan jelas bukan tindakan satria yang semestinya memberikan contoh yang baik dan terhormat sebagai aparat TNI," kata Beni kepada merdeka.com, Senin (21/3).

Menurutnya, tindakan kebohongan yang dilakukan Komandan Kompi turut merugikan nama baik secara institusi maupun pribadinya. Meski, dia menduga jika pilihan berbohong dalam kejadian ini lebih didasari rasa ketakutan maupun sanksi.

"Sedangkan motivasi kebohongan bisa berbagai macam. Yakni karena takut sanksi, takut tidak naik pangkat dan lain-lain," kata Beni.

Sementara terkait perkataan Jenderal Andika soal uang tambahan untuk pengamanan. Beni menilai, jika uang yang dimaksud, bisa jadi merupakan bayaran jasa pengamanan yang sampai saat ini masih menjadi persoalan.

"Kemudian soal alasan mendapatkan uang tambahan ketika penugasan di suatu tempat, ini merupakan persoalan gunung es dalam penugasan di wilayah konflik," kata Beni.

Pasalnya, pihak aparat keamanan kerap mendapatkan pemasukan tambahan dari pihak luar sebagai bayaran jasa keamanan.

"Karena setiap penugasan daerah konflik bisa saja ditempatkan di suatu tempat atau obyek vital (perusahaan tambang, instalasi PLN, infrastruktur strategis lainnya). Tentu saja mendapatkan uang jasa keamanan tambahan dari pemilik tempat atau obyek vital tersebut," ujar Beni lagi.

Sebelumnya, Andika mengungkap kemarahannya akibat kelalaian dan kebohongan dalam laporan berimbas tiga prajurit meninggal dunia ketika serangan oleh KKB Papua yanv terjadi di pos TNI, tepatnya di Pos Koramil Gome, Satgas Kodim YR 408/Sbh.

"Ternyata hasilnya berbohong. Yang terjadi bukan yang dilaporkan. Dan yang terjadi sebenarnya ini disembunyikan oleh si Danki dari Komandan Batalyon," tuturnya dalam video yang ditayangkan dalam akun YouTube Jenderal TNI Andika Perkasa seperti dikutip.

Menurut Andika, kejanggalan atas kronologi kejadian yang dilaporkan membuat tim investigasi Kodam melakukan penyelidikan lanjutan atas peristiwa itu. Nyatanya,terbukti adanya kelalaian pimpinan yang menyebabkan terjadinya penyerangan tersebut dan menimbulkan korban jiwa.

"Jadi ya betul yang melakukan tindak pidana pembunuhan adalah kelompok bersenjata. Tapi juga ada peran ini, peran penggelaran oleh Komandan Kompi yang dalam hal ini sebagai komandan pos di tempat yang tidak diperhitungkan dan disepelekan," kata Andika.

Andika Perkasa memastikan adanya proses hukum terhadap Komandan Kompi (Danki) terkait peristiwa penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua terhadap Pos Koramil Gome Satgas Kodim YR 408/Sbh, hingga menyebabkan tiga prajurit TNI meninggal dunia.

"Jadi saya ingin ada proses hukum terhadap Danpos ini atau Komandan Kompi ini. Dituntaskan supaya jadi pembelajaran juga," kata Andika.

Andika menyatakan kekecewaannya atas peristiwa tersebut. Akibat dari kelalaian komandan menyebabkan prajurit menjadi sasaran empuk penyerangan kelompok bersenjata.

"Karena kita di sini semuanya memikirkan dukungan, kemudian bagaimana melindungi anggota, di sana hanya begini-begini saja rupanya. Maksudnya pertimbangan pendek sekali. Hanya soal, oh kita dapat uang tambahan untuk pengamanan di situ, dikorbankan semuanya," tutup Andika.

Rekomendasi