Dua Kelompok Massa Gelar Aksi di Bawaslu Sumut

Jumat, 10 Mei 2019 17:09 Reporter : Yan Muhardiansyah
Dua Kelompok Massa Gelar Aksi di Bawaslu Sumut Aksi unjuk rasa di Bawaslu Sumut. ©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Dua kelompok massa berunjuk rasa di sekitar kantor Bawaslu Sumut. Polisi menyekat keduanya dan memunculkan dugaan keberpihakan kepada salah satu kelompok.

Kelompok pertama tiba di depan kantor Bawaslu di ujung Jalan H Adam Malik, Medan, sebelum salat Jumat. Sebagian di antaranya terlihat membawa tongkat kayu. Bahkan sejumlah saksi menyatakan mereka membawa senjata tajam.

Massa ini mengatasnamakan Solidaritas Rakyat Anti Makar (SERAM). Mereka berkumpul di seputaran kantor Bawaslu Sumut, tepatnya di sekitar tugu Adipura simpang Jalan H Adam Malik dengan Jalan T Amir Hamzah. Semua mengenakan tanda pita merah putih yang diikatkan ke kepala atau lengan baju.

Massa mengaku ingin menjaga Bawaslu Sumut. Namun sebagian pengunjuk rasa mengaku tidak mengetahui tujuan aksi itu. "Cuma ikut saja. Kami dari Brayan Bengkel diajak demo ke sini," ujar remaja laki-laki berambut pirang sambil mengisap rokok.

Massa SERAM membentangkan poster yang berisi penolakan terhadap gerakan people power. "Mari kita kawal KPU dan Bawaslu," ucap Junhaidal, salah seorang koordinator aksi.

Sementara itu, aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi. Sejumlah kendaraan taktis disiagakan. Kawat duri pun dipasang di sana. Sekitar 1.500 polisi disebar di sejumlah titik di Kota Medan.

"Ada tiga titik yang menjadi pengamanan yakni Bawaslu Sumut, KPU, dan Hotel JW Marriott," kata Kapolrestabes Medan, Kombes Dadang Hartanto,

Sementara kelompok massa lainnya mulai berdatangan ke Jalan H Adam Malik usai salat Jumat. Suasana sempat memanas, saat massa SERAM yang berunjuk rasa di depan Kantor Bawaslu Sumut berlarian ke arah massa yang baru tiba. Mereka menenteng tongkat kayu dan melontarkan teriakan provokatif.

"Ayo tutup jalannya, serang," teriak salah seorang di antaranya.

Kelompok yang diteriaki mengaku sebagai warga setempat. Mereka berorasi dan mengecam tindakan massa SERAM yang dianggap tidak menghargai orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

"Mereka makan, minum dan merokok seenaknya. Kampung ini kampung ulama. Sungguh perbuatan yang tidak menghargai," ujarnya

Polisi langsung membatasi gerak kedua belah pihak dengan memasang barikade di sekitar depan gedung Indako Depelopment Centre. Kendaraan pengendali massa diparkir di sana.

Personel Sabhara dan Brimob pun dibariskan di sana. Selain itu kawat berduri di pasang di pangkal Jalan H Adam Malik sekitar Bundaran Majestik. Akibatnya mobil komando bersama massa GNPF Ulama Sumut yang datang dari arah Masjid Raya Al Mahsun tidak dapat masuk ke lokasi.

Pembatasan dan penyekatan itu membuat massa menuding polisi berpihak pada massa SERAM. "Kami juga warga negara punya hak yang sama menyampaikan pendapat. Kenapa mereka bisa orasi di Bawaslu, tapi kami tidak boleh," ujar pengunjuk rasa.

Para ibu-ibu berada di barisan depan pengunjuk rasa. "Kami ini ibu-ibu yang hanya membawa satu pesan. Kami ini ibu-ibu khawatir negara ini dipimpin oleh orang yang rusak. Kami dihalangi, kami dibarikade Kami enggak kasih masuk," kata Roni Br Siregar, salah seorang pengunjuk rasa.

Menjelang salat Asar, massa SERAM dibubarkan. Mereka berangsur-angsur bergerak meninggalkan lokasi. Barikade yang dipasang untuk memisah kedua kelompok pun dibuka.

Setelah salat Asar, kelompok yang menuntut penuntasan kecurangan Pemilu 2019 mulai merangsek ke depan kantor Bawaslu Sumut. Massa GNPF Ulama Sumut yang sempat tertahan di Bundaran Majestik pun akhirnya tiba di lokasi. Mereka berorasi di sana.

"Ini pemilu paling kotor paling brutal dan paling sadis," kata Heriansyah, Ketua Umum GNPF Ulama Sumut.

Massa masih berorasi di depan kantor Bawaslu. Sementara pihak kepolisian terus berjaga di sana. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini